Tampilkan postingan dengan label tanaman buah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman buah. Tampilkan semua postingan

Cara Menanam Jeruk Manis dalam Pot - Tabulampot Jeruk Manis

Kenapa harus membeli buah jeruk di pasar jika Anda bisa memetiknya di rumah sendiri. Coba saja beli bibit tanaman jeruk, tanam, dan rawat secara benar. Anda akan merasakan kepuasan tersendiri ketika memetik dan menikmati buahnya.

A. Sipat-sipat Jeruk Manis

Digolongkan jeruk manis karena jenis ini memiliki rasa yang manis. Jeruk manis umumnya hanya berbuah satu kali selama setahun. Buahnya berbentuk bulat atau mendekati bulat, berukuran agak besar, bertangkai kuat, kulit buah mengilap, dan berwarna hijau sampai kekuningan. Bunganya berwarna putih ketika masih kuncup dan berubah menjadi putih kekuningan ketika mekar.

B. Syarat Tumbuh Jeruk Manis

  1. Tanaman jeruk tumbuh optimal pada ketinggian tempat 1-1.200 m dpl.
  2. Menyukai pencahayaan penuh dengan temperatur optimal 25-30 derajat celcius dan kelembapan 70-80%.
  3. Membutuhkan curah hujan 1.000-2.000 mm per tahun dengan 6-9 bulan basah.
  4. Tanaman jeruk manis membutuhkan pencahayaan matahari minimum 5 jam per hari.

C. Jenis-jenis Jeruk Manis

Beberapa jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk keprok (Citrus reticulata atau Citrus nobilis L.); jeruk siem (Citrus microcarpa L. dan Citrus sinensis L.) yang terdiri atas siem pontianak, siem garut, siem lumajang; jeruk manis (Citrus. auranticum L. dan Citrus sinensis L.); jeruk sitrun atau lemon (Citrus medica); dan jeruk besar (Citrus maxima Herr.) yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madium dan Bali.

D. Memindahkan Bibit dari Polibag ke Pot

1. Siapkan pot untuk wadah tanaman dan bibit tanaman jeruk. Pot yang digunakan bisa berupa pot tanah, pot porselen, pot plastik, pot semen, atau pot kayu. Hal yang terpenting adalah ukuran pot disesuaikan dengan ukuran bibit tanaman.
GAMBAR
2. Letakkan pecahan genting atau batu ke dasar pot, kemudian lapisi kerikil dan pasir di bagian atasnya untuk mencegah keluarnya media melalui lubang dasar pot.
GAMBAR
3. Masukkan media tanam berupa campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1 hingga ketinggian setengah dari tinggi pot.
GAMBAR
4. Keluarkan bibit dari polibag, lalu letakkan bibit di tengah-tengah pot.
GAMBAR
5. Isi kembali pot dengan media tanam hingga menyentuh bibir pot, padatkan.
GAMBAR
6. Siram agar tanah dalam pot memadat, lalu letakkan di tempat teduh selama 1 minggu. Selanjutnya, secara bertahap tanaman diletakkan di tempat terbuka dengan pencahayaan penuh.
GAMBAR

E. Perawatan Harian Jambu Biji

a. Penyiraman

Tanaman jeruk tidak menyukai air yang berlebih. Penyiraman dilakukan satu kali seminggu pada musim kemarau. Usahakan batang akar jangan sampai tergenang air. Pasalnya, air yang menggenangi perakaran justru dapat menyebabkan tanaman mudah membusuk.

b. Pemupukan

Aplikasi pupuk sesuai kebutuhan tanaman berdasarkan usia tumbuh.
1. Umur 4 bulan, berikan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 25 gram per tanaman.
2. Umur 8 bulan, berikan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 50 gram per tanaman.
3. Umur 12 bulan, berikan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 100 gram per tanaman.
4. Umur 16 bulan, berikan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 gram per tanaman.
5. Umur 20 bulan, berikan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 300 gram per tanaman.
Selain pupuk NPK, tanaman juga bisa diberi pupuk kandang sebanyak 20 kg per tanaman pada tahun pertama, 25 kg pada tahun kedua, dan 30 kg pada tahun ketiga. Dengan demikian, kebutuhan nutrisi tanaman dapat terjaga dengan baik.

c. Penjarangan Buah

Penjarangan buah dilakukan untuk mendukung pertumbuh-an buah. Kriteria buah yang dipotong adalah buah yang sakit, buah yang tidak mendapatkan cahaya matahari, dan buah yang tumbuh berlebih dalam satu tangkai. Idealnya, satu tangkai utama hanya menyisakan 2—3 buah jeruk.

d. Pemangkasan

Seperti halnya tanaman buah lain, pemangkasan pada tanaman jeruk manis dilakukan menggunakan sistem 1-3-9 ditambah 3 cabang tersier dari cabang sekunder. Untuk cabang primer diatur jaraknya masing-masing sekitar 10 cm. Sementara itu, cabang primer, sekunder, dan tersier dipangkas hingga 30—50 cm dari pangkal cabang. Selain percabangan, tunas liar juga perlu dipangkas untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman.
GAMBAR

e. Penggantian Media

Penggantian media pada tabulampot dilakukan 3—4 tahun sekali. Komposisi media tanam yang diberikan sama seperti campuran sebelumnya. Dalam melakukan penggantian media, pemangkasan cabang tanaman juga perlu dilakukan sebanyak sepertiganya. Buang juga bagian perakaran yang dianggap tidak perlu.

Manfaat dan Keunggulan Menanam Buah dalam Pot (Tabulampot)

manfaat keunggulan tabulampot
Manfaat dan keunggulan menanam buah dalam pot, yang lebih dikenal dengan istilah tabulampot merupakan hobi yang kini sedang digandrungi banyak orang. Dahulu, ketika kepemilikan tanah masih luas, menanam buah lazimnya hanya dilakukan di areal luas. Namun kini, ketika perumahan semakin padat dan lahan yang dimiliki semakin sempit, mulailah orang berpikir untuk mencari alternatif teknik pembudidayaan tanaman. Akhirnya, tercetuslah ide untuk menanam tanaman buah di dalam wadah terbatas, yakni menggunakan pot atau tong.

A. Fenomena Tabulampot

a. Berawal dari Coba-coba

Tahun 1982, merupakan titik awal dari sebuah bisnis baru, yakni perdagangan tanaman buah dalam pot. Bermula dari keisengan para penangkar bibit yang mencoba
memindahkan bibit tanaman ke dalam pot dan dipelihara hingga besar. Perawatan yang dilakukan pun sama halnya dengan perawatan tanaman buah yang ditanam di tanah.
Bak gayung bersambut, tak disangka, keisengan ini justru membuahkan hasil. Tanaman buah yang ditanam di pot ternyata juga mampu menghasilkan buah. Alhasil, tabulampot menjelma menjadi sesuatu yang unik. Sejak itu, mulailah banyak orang yang mempraktikkannya pada jenis buah yang lain. Banyak yang berhasil, banyak pula yang gagal. Semua tergantung pada perawatan yang dilakukan.

b. Dari Keranjang Bambu hingga Polibag

Sebelum polibag ditemukan, para penangkar memindahkan bibit tanaman buah ke dalam keranjang bambu untuk pengiriman jarak jauh. Tujuannya agar tanaman buah tersebut tidak mengalami kerusakan selama di perjalanan
Ketika sampai di tujuan, tanaman tersebut dipindahkan ke dalam pot gerabah atau drum bekas. Tujuannya sama, yakni untuk menjaga agar bibit tanaman bisa hidup lebih lama. Hingga kini, para penangkar di Lampung dan beberapa tempat lainnya masih tetap menggunakan keranjang bambu untuk menampung benih yang baru dicabut dari lahan sawah. Mungkin, dari sana juga mulai tren usaha tabulampot.

c. Dikembangkan Secara Terbatas Sejak 40 Tahun Silam

Menurut informasi lain, tren menanam tanaman buah dalam pot sebenarnya telah dimulai pada tahun 1970-an secara terbatas. Tren ini muncul seiring dengan gerakan
penghijauan yang dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin. Tren tabulampot setidaknya memberikan solusi untuk mereka yang memiliki halaman rumah terbatas, tetapi ingin punya banyak tanaman. Apalagi, harga jual tanaman buah jauh lebih tinggi ketika dipasarkan dalam kondisi berbunga atau berbuah.

B. Keunggulan Tabulampot

Mungkin Anda pernah melihat sosok tanaman buah di dalam pot yang berukuran tidak besar, tetapi buahnya sudah banyak. Itulah keunggulan tabulampot. Tabulampot sengaja tidak dibuat tinggi dan tidak rimbun. Selain untuk memaksimalkan space yang ada, peminimalisan tanaman juga terkait dengan perawatan harian dan pemanenan agar lebih mudah dilakukan. Sosok tabulampot yang minimalis juga membuat tanaman menjadi lebih mudah dipindah-pindah.

keuntungan tabulampot
Namun, tak ada gading yang tak retak, di balik keunggulan pasti ada kelemahan. Begitu pula dengan tabulampot. Dengan wadah kecil dan media tanam yang terbatas, si pemilik dituntut untuk lebih serius dan teliti dalam merawat tanaman buah miliknya. Perlakuan juga harus lebih diistimewakan. Jika tidak, sang buah yang dinanti-nanti tidak akan muncul. Bahkan, bukan tidak mungkin tanaman yang dipelihara malah merana.
Misalnya, ketika aplikasi pupuk yang diberikan tidak tepat, hasilnya akan memengaruhi proses pembungaan dan pembuahan. Tanaman mungkin terlihat subur, tetapi tidak berbuah, bahkan berbunga pun tidak. Kalaupun berbunga, tidak lama kemudian pasti rontok.
Banyak terjadi di kalangan hobiis ketika buah sudah muncul, walaupun masih pentil, tak lama kemudian malah berguguran. Terkadang inilah yang membuat pecinta tabulampot menjadi frustasi. Pantas saja jika sebagian hobiis justru mengambil jalan pintas dengan cara membeli tabulampot yang sudah berbuah. Memang, cara ini dinilai lebih aplikatif. Selain buah yang dihasilkan dapat langsung dilihat dan dinikmati, pembuahan selanjutnya juga lebih mudah dilakukan. Sayangnya, tabulampot yang sudah berbuah harganya lebih mahal daripada bibit buah yang baru tumbuh.
Lalu, bagaimana untuk hobiis yang ingin memeliharanya dari bibit? Jangan khawatir. Selain harganya lebih terjangkau, memelihara tanaman buah sejak bibit pasti lebih memuaskan, apalagi jika sampai berbuah. Namun, bagi Anda yang pemula, sangat disarankan untuk memilih jenis tanaman buah yang mudah berbunga dan berbuah. Misalnya, belimbing, jambu air, jambu biji, jeruk nipis, dan kedondong. Jika tanaman ini sudah berhasil berbuah, selanjutnya tinggal memilih jenis tanaman buah lainnya sesuai selera.

Keuntungan Memelihara Buah dalam Pot

  1. Area tanam yang dibutuhkan tidak terlalu luas.
  2. Dapat menghasilkan buah-buahan murni minim pestisida.
  3. Mempercantik halaman rumah dan pekarangan di sekitarnya.
  4. Masa berbunga dan berbuah tanaman dapat diatur, sehingga produksi buah tidak tergantung musim.
  5. Pertumbuhan tanaman tidak merusak areal di sekitarnya.
  6. Kebutuhan nutrisi tanaman dapat diperoleh secara maksimal.
  7. Aplikasi pupuk dan penyiraman lebih terencana.
  8. Jika terserang hama atau penyakit, penanggulangannya lebih mudah dilakukan.

C. Prospek Bisnis Tabulampot

Tidak hanya untuk menyalurkan hobi, menanam tabulampot sebenarnya juga mampu memberikan peluang bisnis yang menjanjikan bagi pemiliknya. Proses pembuatannya yang terbilang singkat membuat perputaran uang juga menjadi lebih cepat. Terbukti, banyak tabulampot yang dikembangkan dari bibit dengan harga sekitar puluhan ribu rupiah, ketika dipelihara sampai berbuah—membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 2 tahun—dapat dijual kembali dengan harga jutaan rupiah. Bahkan, untuk tipe tanaman buah tertentu, harga bibit yang belum berbunga bisa dihargai hingga ratusan ribu rupiah.
bisnis tabulampot
Karena bersifat hobi, maka bisnis tabulampot tidak mem-butuhkan biaya yang besar. Contohnya, jika di rumah Anda memiliki tanaman buah yang sudah besar dan berbuah lebat, coba saja diperbanyak dengan teknik cangkok atau setek. Jika perbanyakan berhasil, bibit tanaman bisa dipindahkan ke dalam pot. Bibit inilah yang bisa dijual ke hobiis yang lain atau dititip jual ke pedagang tabulampot. Apalagi jika bibit tersebut dipelihara menghasilkan buah, tentu harga pasarannya lebih mahal lagi.
Misalnya saja, tanaman lengkeng varietas pingpong. Di pasaran, bibit tersebut bisa dibeli dengan harga Rp75.000—Rp100.000. Selanjutnya, rawatlah tanaman tersebut hingga berbuah. Jika dijual, otomatis harganya akan naik berkali lipat menjadi sekitar empat juta rupiah. Harga ini dari satu tanaman, bayangkan kalau tanaman yang dihasilkan puluhan jenis tanaman, bahkan ratusan jenis. Berapa banyak keuntungan yang didapat. Selisih harga jual yang cukup signifikan ini akan sangat menguntungkan, dan ini yang harus ditangkap sebagai peluang bisnis.

D. Karakteristik Buah untuk Tabulampot

Bibitnya baik, pengairan dan pemupukan tepat, pemang-kasan sudah, media juga tidak ada masalah, tetapi kenapa tananam belum juga berbuah? Apa benar menanam tabulampot harus disesuaikan dengan kondisi lahan yang kita miliki?
menanam tabulampot
Itu benar, setiap tanaman buah yang ingin dipelihara harus disesuaikan dengan habitat tumbuhnya atau setidaknya mendekati. Misalnya stroberi, buah yang memiliki rasa khas masam manis ini sebaiknya ditanam di daerah sejuk yang memiliki ketinggian 1.000—1.500 m dpl. Jika Anda bersikeras menanamnya di dataran rendah, tanaman mungkin tetap tumbuh, tetapi sulit berbuah.
Berbeda halnya dengan tanaman mangga. Idealnya, tanaman ini dipelihara di dataran rendah yang kering. Tidak disalahkan jika ingin menanamnya di dataran tinggi. Namun, siap-siap terima risiko jika tanaman mangga menjadi malas berbuah.
Mungkin Anda mengenal atau pernah mencicipi mangga indramayu. Salah satu verietas mangga ini memang berasal dari daerah Indramayu. Jika dilihat secara geografis, Indramayu terletak dekat dengan Pantai Utara Jawa. Pantas jika tanaman mangga hidup besar di sana.
Sementara itu, stroberi justru banyak tumbuh di sekitar Lembang, Bandung. Daerah Lembang yang sejuk, tetapi kering, memang menjadi surga untuk tanaman stroberi. Intinya, kesalahan menentukan jenis tanaman bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pembungaan dan pembuahan. Apa penyebabnya? Bagaimana mengatasinya? Mari kita kupas penjelasannya dalam bab-bab selanjutnya.
Ketinggian tempat erat kaitannya dengan intensitas cahaya, kelembapan, dan temperatur udara di suatu daerah. Kondisi ini disebut juga agroklimat. Setiap jenis tanaman memiliki tingkatan adaptasi terhadap agroklimat yang berbeda-beda. Agroklimat ini sangat erat kaitannya dalam pembungaan dan pembuahan tanaman. Karena itu, tanaman asal dataran tinggi belum tentu cocok ditanam di daerah dataran rendah.

Pengendalian dan Membasmi Hama Tanaman Mangga

Pengendalian dan Membasmi Hama Tanaman Mangga
Hama dan penyakit dapat menyerang tanaman mangga mulai dari fase pembibitan sampai tanaman menghasilkan buah. Pemeliharaan tanaman yang kurang baik dapat mengakibatkan peningkatan serangan hama atau penyakit. Tanaman yang terserang hama atau penyakit biasanya ditandai dengan bagian tubuh yang rusak akibat patah atau keropos serta pertumbuhannya terhambat. Akar, daun, batang, bunga dan buah merupakan bagian tanaman mangga yang sering terserang hama dan penyakit.

Serangan hama atau penyakit dapat ditanggulangi dengan membuang bagian-bagian yang terserang, lalu membakarnya. Pestisida juga perlu diberikan untuk mencegah serangan terjadi kembali. Penyemprotan pestisida dapat dilakukan setiap dua minggu sekali dengan dosis dan waktu yang tepat. Penyemprotan pestisida yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap proses penyerbukan bunga akibat serangga penyerbuknya mati.

Menjaga kebersihan lingkungan di sekitar tanaman dan penggunaan bibit yang tahan hama penyakit dapat mencegah terjadinya serangan. Berikut beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman mangga dan cara pengendaliannya.

A. Hama

a. Kutu Putih (Planococcus lilacinus)

Karakteristik
Berbentuk oval, datar, tubuhnya ditutupi lapisan tebal seperti lilin, sering hinggap di daun dan mengisap cairan sel daun.
Gejala Serangan
Daun menjadi kering dan gugur. Kutu putih menjadi penyebab munculnya penyakit embun jelaga yang menyerang pada saat musim hujan.
Pengendalian
1. Kendalikan semut merah yang menjadi vektor kutu putih dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif lambdacyhalothrin atau delmetrin, seperti Lebaycid 550 dengan dosis 0,2% atau sipermetrin, seperti Arrivo 30 EC dengan dosis 2,4 gram setiap satu liter air.
2. Buang dan bakar daun atau cabang yang terserang.
3. Semprotkan Insektisida berbahan aktif lambdacy-halothrin atau delmetrin, seperti Lebaycid 550 dengan dosis 0,2%.

b. Lalat buah (Dacus dorsalis)

Karakteristik
Lalat buah dewasa berukuran panjang 7—8 mm, berwarna kuning, dan bersayap putih bening. Serangga ini sering menghinggapi buah mangga dan bertelur. Serangan biasanya terjadi pada saat buah mulai muncul.
Gejala Serangan
Terdapat titik-titik hitam di permukaan buah akibat tusukan lalat buah. Produktivitas mangga menurunan karena banyak bagian daging buah yang membusuk dan gugur. Telur yang menempel di permukaan buah akan berubah menjadi larva yang akan merusak daging buah.
Pengendalian
1. Jaga kebersihan lingkungan, melakukan pengasapan, atau menanam tanaman perangkap di sekitar mangga, seperti selasih.
2. Bungkus buah dengan plastik atau kertas.
3. Pasang perangkap lalat buah yang diberi Petrogenol 800 L.
4. Memanfaatkan musuh alami, seperti parasitoid dari famili Braconidae (Bioteres sp. dan Opius sp.).

c. Rayap (Nasutitermes sp.)

Karakteristik
Rayap menyerang tanaman mangga dengan membuat sarang di dalam tanah sampai batang tanaman di atas permukaan tanah. Sarang yang dibuat akan tampak seperti terowongan bila dilihat dari luar.
Gejala Serangan
Rayap biasanya hanya memakan bagian akar tanaman mangga yang sudah mati, tetapi cairan yang dihasilkannya dapat mempercepat kematian kulit batang, sehingga dapat memperluas serangannya.
Pengendalian
1. Jaga kebersihan lingkungan di sekitar tanaman. Buang sisa-sisa ranting, sampah, dan bongkol kayu.
2. Gali dan buang bagian tanaman yang terserang.
3. Bongkar sarang rayap, lalu semprotkan insektisida seperti Regent SC atau taburkan nematisida seperti Furadan 3 G dalam media tanam.

d. Penggerek Batang (Rhytidodera rufomaculata)

Karakteristik
Berupa ulat yang menggerek batang atau cabang hingga terbentuk lubang dan mengakibatkan keropos. Hama ini biasanya menyerang saat musim hujan. larva (ulat) yang akan menggerek batang atau cabang sampai ke bagian tengah batang dan membentuk lubang seperti lorong-lorong. Tingkat serangan yang tinggi akan menyebabkan jaringan pembuluh kayu (xylem) rusak dan mengering, sehingga pendistribusian hasil fotosintesis terputus. Tanaman menjadi layu, daunnya rontok, dan akhirnya mati.
Pengendalian
1. Meletakkan batang katu di dekat pohon sebagai perangkap agar kumbang bertelur di kayu, bukan di batang mangga.
2. Buang dan bakar cabang yang terserang hama.
3. Manfaatkan musuh alami berupa parasit telur, seperti Promuscidaea, Anagyrus, dan Eupelmus. Biakkan dan tebar parasit tersebut di sekitar tanaman dapat dilakukan untuk menekan pertumbuhan telur
4. Semprotkan pestisida berbahan aktif mancozeb, betasiflutrin, dan karbufuron, seperti Buldok 25 EC dengan dosis 2 ml/liter air.

e. Penggerek Buah (Noorda albizonalis Hampson)

Karakteristik
Ulat berwarna hijau keunguan, dengan panjang serangga dewasanya 1,6—2 mm. Serangga dewasa biasanya aktif pada sore hari. Serangga dewasa mengisap buah mangga dan menusuk buah untuk meletakkan telur-telurnya. Hama ini biasanya menyerang buah yang masih berukuran kecil (55—60 hari setelah muncul buah).
Gejala serangan
Adanya bintik-bintik di permukaan buah yang merupakan bekas tusukan serangga dewasa untuk meletakkan telur. Telur tersebut berubah menjadi larva yang akan menggerek buah dan memakan jaringan di bawah kulit buah. Buah yang terkena serangan akan menjadi rusak dan berguguran.
Pengendalian
1. Petik buah yang diserang, lalu benamkan dalam tanah.
2. Bungkus buah yang masih berukuran kecil menggunakan plastik atau kertas koran.
3. Gunakan musuh alami berupa larva Rhynchium attrisum
4. Semprotkan insektisida berbahan aktif ethofenprox atau deltametrin seperti Decis 2,5 EC atau yang berbahan aktif Betasilflutrin seperti Buldok 25 EC dengan dosis 2 ml/liter yang diaplikasikan pada sore hari.

B. Penyakit

a. Antraknosa (Colletotrichum gloeosprorioides)

Karakteristik
Disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosprorioides. Penyakit antraknosa tidak hanya menyerang tanaman mangga selama masa pertumbuhan, tetapi juga selama proses penyimpanan setelah panen. Antraknosa biasanya menyerang pada awal musim hujan. Selama masa pertumbuhan, antraknosa biasanya menyerang tanaman mangga di bagian daun muda, batang, bunga, dan buah.
Gejala serangan
Di daun terdapat bercak bulat hingga angular berwarna cokelat dan kelabu di tengahnya, kadang-kadang berlubang (shot hole) dan berwarna kuning di bagian tepi. Daun yang terserang akan mengering dan akhirnya gugur. Batang muda yang terserang antraknosa ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna cokelat kelabu membentuk gelang. Gejala di bagian bunga ditandai dengan adanya bercak kecil berwarna hitam yang dapat menyebabkan bunga rontok. Gejala di bagian buah ditandai dengan adanya bercak hitam di bagian kulit buah yang kemudian membesar dan mengakibatkan buah membusuk
Pengendalian
1. Memusnahkan gulma, membakar daun-daun yang gugur, dan rutin melakukan pemangkasan setelah panen atau sebelum muncul tunas baru.
2. Memperbaiki draenase kebun.
3. Semprotkan fungisida dengan komposisi mancozeb 0,25% + dicotophos 0,2% + pupuk daun 2 gram/liter air. Penyemprotan dilakukan sejak tunas bunga terbentuk hingga masa pemasakan buah dalam selang waktu 7—10 hari. Fungisida lain yang dapat diberikan di antaranya Dithane M 45, Benlate, dan Antracol 70 WP.

b. Penyakit Busuk Akar (Rosellina bunodes)

Karakteristik
Rosellina bunodes menyerang akar tanaman mangga dengan membentuk miselium berwarna hitam yang dapat menyebabkan perakaran membusuk. Penyakit busuk akar menular melalui kontak antara akar yang terserang dengan akar yang sehat.

Gejala serangan
Daun paling ujung berwarna kuning dan berukuran lebih kecil, cabang-cabang mengering, dan pertumbuhan tunas terhambat. Akar yang terserang penyakit ini tidak akan mampu menyerap unsur hara secara maksimal.
Pengendalian
1. Sterilisasi media tanam menggunakan Ridomil 2 G, Basamid G, atau Vapan.
2. Jika tingkat serangan tidak terlalu parah, dapat buka akar yang berada dekat permukaan tanah, lalu potong bagian akar yang sakit. Olesi bekas potongan dengan obat penutup luka, berupa ter atau karbolineum parafin.
3. Jika telah parah, bongkar segera tanaman, lalu bakar untuk menghindari penularan ke tanaman lainnya.

c. Embun Jelaga (Capnodium mangiferae)

Karakteristik
Menyerang bagian daun dan ranting tanaman mangga. Cairan madu yang dikeluarkan oleh hama—seperti kutu putih, kutu sisik, atau wereng—merupakan makanan bagi cendawan Capnodium mangiferae.
Gejala serangan
Cendawan embun jelaga menyebabkan warna hitam di permukaan daun dan ranting. Tingkat serangan yang tinggi dapat menyebabkan hampir seluruh permukaan daun dan ranting berwarna hitam. Hal ini mengakibatkan proses fotosintesis terganggu, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu

Pengendalian
1. Memberantas hama yang mengeluarkan cairan madu, sumber makanan cendawan. Semprotkan pestisida atau buang menggunakan tangan. Buang dan bakar daun atau ranting yang terserang.
2. Buang bagian tanaman yang terserang, lalu bakar.
3. Semprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb, seperti Dithane M-45, Vondozeb 80 WP, Nemispor 80 WP, atau Trimiltox 65 WP.

d. Penyakit Busuk Buah (Psedomonas mangifera indica)

Gejala serangan
Adanya bercak kecil yang kemudian membesar dan mengalami perubahan warna, dari hijau, kuning kehijauan, kuning, dan akhirnya cokelat atau hitam. Serangan penyakit busuk buah mematikan jaringan penyusun organ (gejala nekrosa), sehingga menyebabkan buah membusuk. Penyakit ini juga dapat menyerang bagian tanaman lainnya, seperti daun muda, batang muda, dan tangkai daun.
Pengendalian
1. Menjaga sanitasi di sekitar lingkungan tanaman melalui pemangkasan yang teratur untuk menjaga kelembapan tanaman.
2. Buang dan bakar buah yang terserang penyakit.
3. Semprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb seperti Dithane M-45 atau yang berbahan propineb seperti Antracol 70 WP.

Tips dan Cara Agar Pohon Mangga Cepat Berbuah

Cara Agar Mangga Cepat Berbuah
Buah merupakan produk utama yang dihasilkan tanaman mangga. Produktivitas buah yang tinggi dengan kualitas baik akan menghasilkan keuntungan yang besar bagi mereka yang berbisnis buah mangga. Mangga termasuk tanaman tahunan yang biasanya berbuah sekali dalam setahun. Munculnya bunga atau buah tanaman mangga dapat diatur atau dipercepat dengan memberikan perlakuan khusus terhadap tanaman mangga.

Perlakuan khusus tersebut dapat dilakukan baik untuk mangga yang ditanam di kebun maupun mangga yang ditanam di dalam pot. Perlakuan ini bertujuan untuk merangsang pembentukan bunga dan buah yang dilakukan terhadap tanaman yang telah memasuki fase produktif, sekitar umur 1,5—3 tahun. Berikut beberapa perlakuan khusus yang biasa dilakukan untuk merangsang pembentukan bunga dan buah mangga.

A. Pemangkasan

Pemangkasan yang teratur terhadap tanaman mangga dapat merangsang pembentukan dan pertumbuhan buah. Pembuangan cabang dan ranting yang tidak produktif akan mengefisienkan penggunaan energi hasil fotosintesis, sehingga kandungan karbohidrat dalam tanaman yang dibutuhkan untuk pembentukan buah meningkat. Pemangkasan tanaman yang terlalu rimbun dapat membantu meratakan penyebaran sinar matahari.

Sinar matahari yang cukup juga membantu daun dalam menghasilkan karbohidrat yang optimal—yang akan digunakan sebagai cadangan makanan. Pemangkasan dilakukan dengan membuang cabang yang tumbuh tegak. Cabang yang tumbuh tegak biasanya tidak mampu menghasilkan bunga dibandingkan dengan cabang yang datar.

Pemangkasan juga dilakukan dengan membuang cabang yang rusak, terkena penyakit dan lemah, serta ranting-ranting yang bersilangan dan tumbuh terlalu rapat. Pemangkasan tunas muda juga dapat merangsang pembuahan. Cara ini cocok untuk mangga yang ditanam dalam pot, tetapi kurang efektif bila dilakukan terhadap mangga yang berukuran besar karena membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih banyak.

B. Pelukaan Batang

Pelukaan batang merupakan perlakuan fisik yang banyak dilakukan untuk merangsang pembentukan buah. Pelukaan bertujuan untuk menghambat distribusi hasil fotosintesis berupa karbohidrat dari daun ke akar, sehingga karbohidrat menumpuk di bagian daun dan cabang.

Kadar karbohidrat yang telah mencapai titik jenuh di bagian daun ditambah rasio nitrogen dan karbohidrat 2 : 3 dan hormon auksin yang diproduksi di bagian pucuk tanaman akan merangsang pembentukan bunga. Pelukaan di batang ini terbukti efektif mempercepat pembungaan dan pembuahan tanaman. Pelukaan biasanya dilakukan dengan mengupas kulit batang sampai kambiumnya hilang selebar 10—20 cm.

Pelukaan batang juga dapat dilakukan dengan mencacah atau membacok batang dengan cara memukul batang menggunakan pisau atau parang yang tajam. Pelukaan ini banyak dilakukan terhadap tanaman mangga, karena batangnya yang keras tahan terhadap luka kulit. Pencincinan (ringing) merupakan salah satu cara pelukaan batang dengan mengelupas kulit batang secara melingkar selebar 10 cm.

Pencincinan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan hanya mencacah atau membacok tanaman. Jika pengelupasan kulit tidak dilakukan dengan hati-hati dapat merusak bagian kambium tanaman yang akhirnya akan menyebabkan tanaman mati. Pencacahan atau pencincinan batang kurang disarankan, karena dapat mendatangkan penyakit di bagian batang yang dilukai.

C. Pelengkungan Batang

Pelengkungan batang bertujuan untuk menghambat per-tumbuhan vegetatif dan mendorong pertumbuhan generatif tanaman mangga. Pelengkungan batang dilaku-kan dengan mendatarkan cabang. Hal ini dikarenakan pada kondisi cabang yang mendatar, aliran unsur hara dan air berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan cabang yang tumbuh dengan posisi menurun.

Cabang yang mendatar membutuhkan tekanan agar unsur hara dapat mengalir, bila tidak aliran unsur hara akan terhenti. Teknik pelengkungan batang dilakukan dengan cara menarik cabang yang akan dilengkungkan ke arah tanah hingga merunduk. Ujung cabang ditahan menggunakan tali yang diikatkan ke patok yang ditancapkan di tanah agar cabang tidak kembali ke bentuk semula.

D. Pencekikan atau Pelilitan Batang

Pencekikan atau pelilitan batang juga merupakan kegiatan melukai batang tanaman mangga. Prinsipnya sama dengan pelukaan, yaitu untuk menghambat aliran hasil fotosintesis dari daun ke akar, sehingga karbohidrat tertahan di daun yang kemudian digunakan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan. Pencekikan dinilai lebih aman karena pelukaan dilakukan secara tidak langsung terhadap tanaman.

Pencekikan dilakukan dengan melilitkan batang primer atau batang sekunder menggunakan kawat. Pencekikan dengan kawat lebih baik karena lebih kencang sehingga pendistribusian hasil fotosintesis benar-benar terhambat. Batang yang dililit kawat akan semakin tercekik saat batang tanaman tumbuh membesar. Bunga akan muncul setelah dilakukan pencekikan selama 1—2 bulan. Lilitan dilepaskan setelah bakal buah mulai muncul. Pencekikan atau pelilitan ini cocok untuk merangsang pembungaan dan pembuahan mangga yang ditanam di pot.

E. Pemberian Fosfor atau Protein Berkadar Tinggi

Pemupukan dengan dosis fosfor atau protein yang tinggi dapat merangsang pembentukan bunga. Prinsipnya adalah dengan mengurangi pertumbuhan vegetatif sehingga merangsang pertumbuhan generatif. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik atau pupuk anorganik. Pupuk organik yang dapat diberikan berupa minyak ikan, tepung darah, dan tepung ikan dengan kandungan protein tinggi.

Air cucian ikan dan binatang laut yang kayak protein juga dapat disiramkan ke tanaman. Tepung darah atau tepung tulang diberikan setelah tanaman diberi pupuk kandang dengan menambahkan humus atau organic soil treatment (OST). Tepung darah atau tepung tulang diberikan setiap tiga bulan sekali, sebanyak 2—3 genggam/tanaman. Minyak ikan dapat ditambahkan setiap dua minggu sekali dengan komposisi 10 liter air untuk 1 tutup botol minyak ikan. Minyak ikan diberikan dengan cara disiramkan ke tanaman sebanyak 2—3 gayung per tanaman.
Berikut beberapa komposisi dosis pemupukan yang digunakan untuk merangsang pembungaan.
1. Pupuk majemuk NPK diberikan sebanyak 50 gram/pot. Pupuk daun dengan dosis 1 cc/2 liter air diberikan setelah 3—4 hari pemupukan pertama.
2. Pupuk tunggal dengan komposisi ¼ bagian N, ½ bagian P2O5, dan ¼ bagian K2O diberikan sebanyak 1,5 kg dengan menaburkannya di sekeliling tanaman, lalu disiram. Zat perangsang tumbuh seperti Giberelin, Dekamon, dan Golstar diberikan tiga minggu setelah pemupukan pertama. Tanaman kembali dipupuk menggunakan SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 250 gram setelah bunga muncul dan bila sudah ada buah yang matang.

F. Pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Pemberian ZPT bertujuan untuk memengaruhi pertumbuh-an jaringan tanaman dan merangsang pembungaan dan pembuahan. Komposisi sitokinin, giberelin, dan auksin akan merangsang pembentukan bunga. Giberelin merupakan zat perangsang tumbuh, yang keberadaannya harus dikurangi jika ingin memunculkan bunga. Retardan dengan bahan aktif paklobutrazol dapat menurunkan kadar giberelin dalam tubuh tanaman sehingga efektif memacu pembentukan bunga.

Pemberian paklobutrazol efektif untuk tanaman mangga, karena mangga termasuk tanaman terminal atau yang berbunga di ujung. Pemberian paklobutrazol untuk tanaman mangga yang sehat dapat menghambat pertumbuhan daun dan melumpuhkan titik tumbuh. Fotosintesis tetap berlangsung tetapi dengan rasio C/N yang lebih tinggi di bagian tajuk. Hal ini mengakibatkan pada saat titik tumbuh pulih, bukan daun baru yang keluar, melainkan bunga.

Paklobutrazol menghambat pertumbuhan sel meristem dan merangsang pembentukan bunga melalui dua cara. Pertama, dengan mengubah keseimbangan hormon yang menginduksi etilen untuk merangsang pembungaan. Kedua, dengan menekan laju pertumbuhan sehingga mengurangi akumulasi nitrogen. Pengaturan waktu pemberian paklobutrazol yang tepat dapat mengatur waktu panen mangga. Paklobutrazol diberikan dengan menyiramkannya di sekitar pangkal batang dengan dosis 5—10 ml yang dilarutkan dalam 10 liter air. Hal ini yang dilakukan salah seorang pengelola kebun di Majalengka untuk mengatur waktu panen mangganya.

Zat pengatur tumbuh lainnya yang dapat digunakan untuk merangsang pembuahan adalah cultar dan dekamon. Cultar berkhasiat untuk meningkatkan jumlah ranting produktif serta mempercepat dan merangsang pembentukan bunga. Sementara itu, dekamon berkhasiat untuk merangsang tumbuhnya tunas baru, mencegah bunga dan buah yang rontok, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas buah. Pemberian ZPT untuk tanaman mangga dapat menghasilkan buah berukuran besar, lebat, dan dengan rasa yang manis.

Pemberian ZPT harus dibarengi dengan pemupukan dan penyiraman yang teratur. Pemupukan dilakukan dengan memberikan fosfor dosis tinggi. Penyiraman diberikan secara rutin sebanyak 3—5 liter/hari. Penyiraman ditingkatkan menjadi 10—15 liter/hari bila telah muncul bunga. Dosis ZPT yang diberikan tidak boleh berlebihan karena dapat menghambat fungsi hormon tersebut. Waktu pemberian ZPT yang efektif adalah pada saat tanaman sudah memasuki masa produktif. Untuk mangga yang ditanam dalam pot, pemberian ZPT dilakukan setahun sekali, yakni setiap 3—4 bulan sebelum pembungaan.

G. Stres Air atau Pengeringan

Keberadaan air yang mencukupi memang dibutuhkan untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang maksimal, tetapi pemberiannya dapat dikurangi bila bunga atau buah tidak juga muncul. Perlakuan stres air ini berperan sebagai musim kemarau bagi tanaman mangga yang memang biasanya berbunga pada awal musim kemarau. Unsur hara yang terkandung dalam tanah akan sulit diserap oleh akar tanaman terutama unsur N yang hanya bisa diserap dalam bentuk ion yang terlarut dalam air.

Serapan unsur N yang berkurang akan merangsang per-tumbuhan bunga, karena ratio C/N meningkat. Perlakuan stres air dilakukan dengan menghentikan pemberian air selama beberapa waktu tertentu hingga bunga muncul. Perlakuan ini akan mengakibatkan tanaman layu sehingga pertumbuhan daun terhambat. Penyiraman kembali dilakukan secara rutin setelah bunga muncul dengan dibarengi pemupukan yang tepat.


Cara Menanam Mangga di Kebun Agar Cepat Berbuah

A. Persiapan Lahan
Lahan yang akan digunakan untuk berkebun mangga dapat berupa lahan bekas tegalan, bekas sawah, semak belukar, bekas hutan, ataupun lahan yang bertopografi miring. Lahan yang akan digunakan sebaiknya dibersihkan dari alang-alang, batu besar, atau tunggul batang tanaman sebelumnya. Hal ini bertujuan agar sistem perakaran tanaman tidak terganggu serta proses penyerapan unsur hara dan air tidak terhambat.
Lapisan cadas yang berada di bawah lapisan tanah yang relatif tipis sebaiknya dihancurkan. Pada saat pengolahan, tanah dibalik untuk mematikan bibit hama dan penyakit di dalam tanah. Lahan dibagi menjadi beberapa blok yang dipisahkan oleh jalan yang berfungsi saat perawatan, pengangkutan hasil panen, dan pengawasan kebun.
Kebun yang akan ditanami mangga ditata menurut pola bujur sangkar agar tersedia alur yang cukup luas untuk dilalui peralatan mekanis saat perawatan dan pemanenan buah. Jika kebun yang akan ditanami termasuk daerah yang sulit sumber air, buat penampung air hujan di bagian kebun yang letaknya paling tinggi agar air dapat dialirkan ke tempat lainnya. Untuk memudahkan pengairan, buat parit-parit irigasi dan drainase selebar 1—2 m dengan kedalaman 1 m. Untuk lahan yang bertopografi agak miring, lebar parit cukup 1 meter.
Jarak tanam yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanah, kesuburan tanah, jenis tanaman, dan asal bibit. Jarak tanam berpengaruh terhadap serapan unsur hara oleh tanaman, penerimaan sinar matahari, keadaan iklim mikro di sekitar tanaman, dan jumlah tanaman yang akan ditanam. Jarak tanam yang terlalu sempit mengakibatkan tajuk tanaman saling bersentuhan.
Tajuk tanaman yang saling berhimpitan akan menyebabkan penerimaan sinar matahari yang tidak merata, sehingga berpengaruh terhadap proses fotosintesis. Hal ini akhirnya akan memengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi buah. Penjarangan tajuk tanaman mangga biasanya dilakukan pada usia 7 atau 10 tahun. Penanaman bibit dilakukan secara selang-seling di baris untuk memaksimal-kan ruang terbuka untuk pembentukan tajuk. Jarak tanam yang sesuai untuk pertanaman mangga yang menggunakan bibit okulasi adalah 6 x 6 m.
Kondisi kebun yang bertopografi miring dapat disiasati dengan pembuatan teras-teras atau tanggul. Pembuatan teras atau tanggul ini berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi dan sabagai penangkal angin. Untuk areal perkebunan yang luas, pembuatan teras atau tanggul dapat menggunakan peralatan besar. Keadaan tersebut membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembukaan lahan areal yang datar.

B. Penanaman Bibit
Penanaman bibit sebaiknya dilakukan pada awal dan pertengahan musim hujan agar kebutuhan air mencukupi untuk memenuhi kebutuhan bibit, terutama pada saat awal penanaman. Lubang tanam dibuat berdasarkan jenis tanah yang akan digunakan. Jika mangga ditanam di tanah cadas, ukuran lubang tanam diperlebar menjadi 1 x 1 x 1 meter. Namun, jika ditanam di tanah hitam (gembur), ukuran lubang tanam cukup 70 x 70 x 70 cm. Berikut ini langkah pembuatan lubang tanam.
1. Hitung dan atur jarak lubang tanam. Gunakan patok kayu sebagai penanda posisi lubang tanam.
2. Saat pembuatan lubang tanam, pisahkan tanah bagian atas dan tanah bagian bawah. Lubang tanam lalu dibiarkan terbuka selama 1—2 minggu untuk mematikan bibit hama dan penyakit.
3. Setelah itu, masukkan tanah bagian atas ke dalam lubang tanam sampai terisi seperempat volume lubang.
4. Campur sisa tanah galian dengan pupuk kandang sebanyak 10 kg dan ditambahkan NPK sebanyak 100 gram.
5. Masukkan tanah galian ke dalam lubang tanam hingga menggunduk.
Jika bibit mangga didatangkan dari tempat yang jauh, sebaiknya diberikan masa istirahat minimum satu minggu untuk mengembalikan kesegaran bibit agar kuat pada saat ditanam. Proses pengangkutan mengakibatkan bibit menjadi agak layu dan lemah. Pemberian masa istirahat dilakukan dengan menempatkan bibit di lokasi yang ternaungi atau teduh. Bibit kemudian disiram secara teratur 1—2 kali/hari, yakni pada pagi dan sore hari.
Bibit mangga sebaiknya ditanam pada pagi atau sore hari agar bibit tidak layu pada saat dipindahkan. Bibit yang baru dipindahkan memiliki akar yang belum sempurna, sehingga air yang diserap tidak seimbang dengan air yang hilang akibat transpirasi. Akibatnya, tanaman akan mudah layu. Berikut ini tahapan penanaman bibit mangga di kebun.
1. Gali kembali lubang tanam yang sudah tertutup tanah tepat di tengah-tengah. Sesuaikan ukuran lubang tersebut dengan media bibit.
2. Taburi lubang tanam dengan Furadan 3G untuk memberantas hama dan penyakit dalam tanah.
3. Lepaskan bibit dari polibag secara hati-hati dengan cara membasahi media semai. Kerat bagian bawah dan samping polibag, lalu lepaskan kantong polibagnya.
4. Sebelum bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam, sebaiknya perhatikan keadaan perakaran bibit mangga. Akar yang terlalu panjang dapat dipotong menggunakan gunting yang tajam.
5. Masukkan bibit beserta tanah yang menempel ke dalam lubang tanam sedalam leher akar, lalu timbun dan padatkan tanah agar tanaman tidak goyang.
6. Siram bibit yang sudah ditanam hingga cukup basah, lalu tutup tanah dengan rumput kering untuk menjaga kelembapan tanah.
7. Pasang ajir untuk menopang agar tidak mudah rebah tertiup angin. Bibit yang telah ditanam diberi naungan dari daun kelapa atau alang-alang.

C. Pemeliharaan
a. Pemupukan
Tanaman mangga membutuhkan asupan unsur hara yang cukup tinggi. Serapan unsur hara oleh akar dari dalam tanah belum tentu dapat memenuhi kebutuhan tanaman untuk tumbuh optimal. Dibutuhkan asupan unsur hara lain, yaitu melalui pemupukan. Pemupukan yang dilakukan harus tepat jenis, dosis, dan cara aplikasinya. Jenis, dosis, dan cara pemupukan tanaman mangga tergantung pada fase pertumbuhannya. Berikut ini pemupukan mangga berdasarkan fase pertumbuhannya.
1. Umur 3—4 Bulan
Umur 3—4 bulan merupakan awal fase vegetatif tanaman mangga. Pemupukan pada fase ini bertujuan untuk memacu pertumbuhan bagian vegetatif seperti batang, cabang, ranting, daun, dan perakaran. Pupuk yang diberikan berupa urea atau amonium sulfat dengan dosis 100—150 gram/pohon. Pemberiannya dengan cara ditaburkan di parit yang dibuat melingkari tanaman dan sejajar tajuk. Setelah pupuk ditabur, parit ditimbun dengan tanah dan disiram.
2. Umur Satu Tahun
Pupuk yang diberikan berupa pupuk kandang dengan dosis 15 kg/pohon. Pupuk kandang sebaiknya diberikan setiap 6 bulan sekali, yakni pada awal dan akhir musim hujan. Caranya, benamkan pupuk di dalam parit yang dibuat melingkari batang pohon. Setelah pupuk dimasukkan, aduk tanah menggunakan cangkul agar pupuk tercampur dengan tanah bagian bawah, lalu tutup kembali parit tersebut.
3. Menjelang Berbunga
Pada fase ini, tanaman membutuhkan pupuk yang memiliki komposisi fosfor dan kalium yang lebih tinggi. Tujuannya untuk merangsang pembentukan bunga. Pupuk yang diberikan berupa NPK 15-15-15 dengan dosis 1—2 kg/pohon ditambah dengan NPK 8-24-24 atau NPK 1-30-40 dengan dosis 100—200 gram/pohon atau NPK 8-16-24 dengan dosis 100—150 gram/pohon.
4. Saat Pembentukan Buah
Pada fase ini, tanaman mangga membutuhkan pemupukan dengan komposisi kalium yang lebih tinggi ditambah pupuk mikro untuk menghasilkan buah yang berkualitas. Pupuk yang diberikan berupa NPK 15-15-15 dengan dosis 1—2 kg/pohon setelah buah terbentuk. Penyemprotan pupuk daun juga dilakukan bersamaan dengan pemupukan NPK 16-21-27 sebanyak 100—150 gram/20 liter air. Pemupukan melalui daun memungkinkan semua unsur hara yang disemprotkan dapat diserap tanaman.
Pupuk mikro yang diberikan berupa boron dengan dosis 300 ppm (3 ml/l air) untuk mencegah buah yang rontok dan terbelah serta meningkatkan kemanisan buah. Mutu buah dapat ditingkatkan dengan menambahkan pupuk tulang atau pupuk mikro lainnya seperti zinc.
5. Setelah Panen
Pupuk yang diberikan berupa pupuk kandang dengan dosis 20 kg/pohon dan NPK 15-15-15 dengan dosis 1—2 kg/pohon. Pemupukan ini bertujuan untuk merangsang munculnya daun muda setelah panen. Pemupukan harus disertai dengan pengairan untuk memudahkan penyerapan oleh akar. Setelah 10—15 hari, berikan pupuk daun, seperti Nutraphos N dengan dosis 100 gram/20 liter air atau pupuk majemuk NPK 10-0-46 dengan dosis 400—500 gram/20 liter air.
Untuk merangsang pembungaan pada saat daun telah terbentuk, dapat ditambahkan NPK 9-24-24 sebanyak 1 kg/pohon. Setelah 30 hari, semprotkan pupuk daun berkadar 0-52-34 dengan dosis 100—150 gram/20 liter air. Selang 7—10 hari, semprotkan pupuk kalium dengan dosis 400—500 gram/20 liter air. Untuk mempercepat pembungaan, maka proses pemberian air dihentikan.
b. Penyiangan
Penyiangan adalah kegiatan membersihkan gulma atau tanaman lainnya di lingkungan kebun yang mengganggu pertumbuhan tanaman mangga. Keberadaan gulma dan tanaman lainnya dapat menganggu proses pertumbuhan tanaman mangga. Penyiangan dapat dilakukan secara manual, mekanis, ataupun kimia. Secara manual, penyiangan dilakukan menggunakan alat ringan seperti kored, cangkul, dan sabit.
Penyiangan secara mekanis dilakukan menggunakan peralatan mesin. Sementara itu, penyiangan secara kimia biasanya dilakukan di lahan yang luas menggunakan herbisida, seperti Gramoxone, Basta 200 AS, dan Esteron 45 P. Bersamaan dengan penyiangan, sebaiknya dilakukan penggemburan tanah di sekitar tajuk tanaman. Penyiangan di lahan mangga meliputi pekerjaan sebagai berikut.
1. Membuang dan membakar kotoran, daun-daun, dan ranting bekas pangkasan yang dapat mengundang penyakit.
2. Memangkas daun dan ranting yang sakit atau yang terkena serangan hama penyakit untuk menghindari penyebaran penyakit ke bagian lainnya.
3. Memangkas daun dan ranting parasit, yakni daun dan ranting yang tidak terkena matahari langsung.
4. Membakar buah-buahan yang busuk dan rontok.
5. Jangan menebas habis rerumputan di luar tajuk untuk mencegah erosi permukaan yang membawa lapisan tanah beserta unsur haranya saat musim hujan.
c. Pengairan
Tanaman mangga membutuhkan air yang cukup terutama saat pertumbuhan awal serta menjelang pembentukan bunga dan buah. Pemberian air yang tidak mencukupi dapat menimbulkan beberapa masalah, seperti efisiensi pemupukan menjadi rendah karena akar jauh di dalam tanah, pertumbuhan tunas tidak serempak sehingga menyulitkan perawatan, dan produktivitas tanaman menjadi rendah.
Sebaliknya, pengairan yang berlebihan pun dapat berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman, seperti menurunkan kemampuan akar menyerap unsur hara, menghambat peredaran udara dalam tanah, dan mengakibatkan kebusukan akar. Pengairan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Pembuatan sumur atau lubang resapan di dekat pohon buah akan memudahkan tanaman untuk menyerap air hujan. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pengairan mangga.
1. Saat musim kemarau, tanaman yang masih muda membutuhkan air sebanyak 70—80 liter/pohon/minggu.
2. Kebutuhan air berkurang menjadi 40—60 liter/pohon/minggu pada masa produktif. Pengairan dihentikan apabila menjelang pembentukan bunga.
3. Pada saat pembentukan bunga dan buah, tanaman membutuhkan pengairan normal, bahkan dikurangi sedikit setelah buah terbentuk. Tujuannya untuk mengurangi kerontokan bunga atau buah.
4. Kebutuhan air meningkat pada saat pembesaran buah yang berlangsung selama 3—4 minggu sebelum panen. Untuk menghasilkan mutu buah yang diinginkan, pengairan dapat dikurangi sedikit demi sedikit.
5. Setelah panen, pohon membutuhkan banyak air untuk memulihkan kondisinya ke keadaan normal. Pengairan sebaiknya diikuti dengan pemupukan menggunakan pupuk berkadar N tinggi.
Pengairan tanaman mangga dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Pengairan secara manual menggunakan gembor atau ember sebanyak 5—10 liter/pohon.
2. Air dialirkan melalui parit-parit di setiap sisi alur tanaman menuju ke setiap tanaman.
3. Pengairan menggunakan semprotan bertekanan tinggi.
4. Pengairan curah atau sprinkler irigation, yaitu membuat hujan buatan dengan memercikkan air.
5. Pengairan dengan cara dileb, yaitu areal pertanaman digenangi air sampai basah.
d. Penyulaman
Penyulaman adalah kegiatan mengganti tanaman yang mati atau terkena penyakit dan tanaman yang pertumbuhannya terhambat dengan tanaman baru. Penyulaman biasanya dilakukan satu minggu setelah penanaman pertama. Tujuannya mengoptimalkan lahan yang digunakan agar dapat berproduksi secara maksimal.
Tanaman pengganti yang digunakan harus memiliki umur yang sama dengan tanaman yang digantikan, sehingga menghasilkan pertumbuhan yang seragam. Karena itu, dalam penghitungan bibit untuk penanaman harus ditambah 2—5% untuk bibit penyulaman. Teknik penanaman bibit penyulaman sama dengan teknik penanaman yang pertama. Sebaiknya, aplikasikan pestisida terlebih dahulu di lubang tanam sebelum bibit sulaman ditanam.
e. Pemangkasan
Batang, cabang, ranting, dan tunas air yang rusak atau terserang penyakit harus segera dipangkas. Hal ini bertujuan untuk memelihara tanaman dan membentuk fisik tanaman. Pemangkasan yang dilakukan saat masa pembungaan dan pembuahan bertujuan untuk memaksimalkan hasil fotosintesis (C/N ratio tinggi). Pada saat pembungaan dan pembuahan, tanaman mangga membutuhkan C (karbohidrat) yang lebih banyak, sehingga dengan pemangkasan diharapkan suplai C di bagian bunga dan buah terpenuhi.
Pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman mangga dibedakan menjadi dua jenis, yakni pemangksan bentuk dan pemangksan pemeliharaan.
1. Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan ini bertujuan untuk membentuk pohon sesuai dengan yang diinginkan. Pemangkasan ini biasa
dilakukan di bagian batang, cabang, dan ranting pohon untuk menghasilkan tinggi tertentu dengan percabangan yang terbatas. Pemangkasan bentuk dimaksudkan untuk membentuk tipe tanaman terbuka tengah dengan susunan batang utama dan cabang mengikuti pola 1-3-9-27 dengan tinggi tiga meter.
Pemangkasan bentuk dilakukan pertama kali pada saat tanaman masih muda (dengan tinggi sekitar 80—100 cm). Pemangkasan dilakukan dengan menyisakan tiga cabang primer di batang utama serta letak antarcabang membentuk sudut yang seimbang dan terletak pada ketinggian yang berbeda.
Dari cabang primer yang tersisa dipelihara masing-masing tiga cabang sekunder. Demikian seterusnya, sampai terben-tuk kanopi pohon setengah kubah dari percabangan yang kompak dan daun yang merata. Jika bidang pemangkasan hanya tumbuh tunas dengan satu cabang, pemangksan batang utama harus diulangi. Pemangkasan selanjutnya dilakukan 3—6 bulan setelah pemangkasan pertama atau jika cabang yang dipelihara telah mencapai satu meter.
2. Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan ini bertujuan untuk membuang cabang dan ranting yang rusak, tunas air, daun yang mengering dan terkena penyakit, serta untuk mengatur pertumbuhan cabang. Pemangkasan ini dilakukan pada tanaman usia produktif untuk merangsang pembungaan secara maksimal. Sebaiknya, pemangkasan pemeliharaan dilakukan pada awal musim hujan.
Pemangkasan dilakukan dengan membuang cabang, tunas liar, ranting, dan tunas yang sakit untuk memaksimalkan penerimaan sinar matahari di bagian mahkota daun. Pangkas dahan dan ranting yang rapat, bersilangan, tersembunyi, dan terserang penyakit. Pangkas tajuk bagian atas dengan cara mundur satu ruas dari ujung ranting.
Untuk menghasilkan buah yang lebat dan memudahkan dalam proses pemanenan, tinggi tanaman dipertahankan hanya sampai enam meter. Pangkas dahan dan ranting yang pertumbuhannya ke arah dalam tajuk. Pemangkasan cukup dilakukan menggunakan tangan di bagian tunas yang belum berkayu. Alat lain yang dapat digunakan antara lain gunting pangkas atau pisau yang tajam agar kulit kayu cabang tidak terkelupas dan tidak pecah.

GAMBAR

f. Penjarangan Buah
Penjarangan buah dilakukan untuk menghasilkan buah yang berkualitas baik. Buah yang terlalu banyak dikhawatirkan akan menyebabkan tandan mudah patah, terutama saat buah mulai tumbuh besar. Buah yang tersisa akan memperoleh asupan nutrisi yang cukup dan ruang gerak yang lebih luas, sehingga dapat tumbuh optimal. Tanaman mangga yang berbuah terlalu lebat dapat mengakibatkan buah yang muncul sedikit pada musim berikutnya. Karena itu, produktivitas buah yang tinggi dapat dipertahankan melalui kegiatan penjarangan buah.
Penjarangan buah dilakukan dengan memperhatikan jumlah rangkaian tandan buah yang terdapat dalam satu cabang, butir bakal buah dalam satu tandan, dan ukuran cabang yang berbuah. Penjarangan biasanya dilakukan saat buah masih berukuran kecil. Petik buah yang pertumbuhannya kurang baik (abnormal, sakit, dan berukuran kecil). Sisakan 2—5 buah dalam satu tandan. Pilih buah yang pertumbuhannya baik, bebas dari hama dan penyakit, serta memiliki bentuk dan warna yang menarik. Gunakan gunting pangkas untuk menjarangkan buah.
g. Pembungkusan Buah
Pembungkusan buah dimaksudkan untuk mencegah serangan hama, seperti penggerak buah dan lalat buah. Buah yang dibungkus juga akan memiliki ukuran yang lebih besar dan penampilan yang menarik. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah penjarangan buah. Buah sebaiknya disemprot dengan insektisida sebelum dibungkus untuk membasmi telur serangga yang menempel.

Pembungkus yang digunakan harus mampu menahan sinar matahari, menjaga kelembapan buah, dan tahan lama. Pembungkus yang biasa digunakan berupa kertas koran, kertas semen, atau plastik.
Pembungkusan buah banyak dilakukan di Thailand, terutama untuk membentuk warna buah mangga mahachanok. Pembentukan warna ini disebabkan perbedaan besarnya intensitas sinar matahari yang diterima bagian kulit mangga. Bagian yang terkena sinar matahari akan mengubah kandungan glukosa menjadi antosianin, zat yang dibutuhkan untuk pembentukan pigmen merah jambu sampai violet. Pembungkusan buah dilakukan dengan menyelubungi seluruh bagian buah. Bagian atas dan bawah pembungkus ditutup dengan cara distreples, diikat, ataupun dilem.