Tampilkan postingan dengan label jabon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jabon. Tampilkan semua postingan

Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Jabon

A. Prospek Menguntungkan Investasi Kayu Jabon

untung besar bisnis investasi kayu jabon
Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Jabon. Berbisnis jabon memang sangat menguntungkan. Selain mudah diolah dan multifungsi, kayu jabon juga mendatangkan rupiah yang berlipat. Bayangkan saja, modal awal membeli satu bibit jabon saat ini sekitar dua ribu rupiah. Setelah panen, dari satu tegakan jabon dapat dijual menjadi Rp300.000—Rp600.000. Keuntungan berlipat ini dapat diperoleh setelah 5—6 tahun. Walaupun waktu tersebut cukup lama, tetapi jika dibandingkan dengan tanaman penghasil kayu lainnya, jabon justru termasuk tanaman yang cepat tumbuh (fast growing species). Dalam satu tahun, pertumbuhan diameter batang jabon mencapai 5—10 cm, sedangkan kenaikan tinggi pohon mencapai 3—6 m.
Berdasarkan karakteristiknya, jabon tergolong tanaman kayu yang memiliki batang yang lurus dan silindris, cabangnya berukuran kecil dan mendatar, memiliki kemampuan pemangkasan alami (self pruning), serta relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Jabon juga termasuk tumbuhan pionir yang dapat tumbuh di lahan terbuka atau kritis sehingga sering digunakan untuk penghijauan, reklamasi lahan bekas tambang, dan pohon peneduh. Kayu yang dihasilkan mudah diolah dan umumnya digunakan sebagai kayu lapis, veeneer basah, bahan pembungkus, korek api, bahan konstruksi ringan, bahan baku papan partikel, dan bubur kertas (pulp). Sekarang, mari kita bahas tahapan Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Jabon.

B. Persiapan Lahan Menanam Jabon

  1. Pastikan lahan yang akan digunakan sesuai dengan syarat tumbuh jabon. Umumnya, jabon akan tumbuh optimal pada ketinggian 10—900 m dpl, suhu 21—26º C, dan curah hujan 1.500—5.000 mm/tahun.
  2. Untuk meminimalisasi biaya produksi, usahakan lahan yang digunakan merupakan milik pribadi. Jika menggunakan lahan sewa, sebaiknya lakukan simulasi biaya agar usaha ini tidak rugi.
  3. Lakukan proses pembersihan lahan meliputi jalur tanam dan daerah piringan dengan bantuan alat seperti parang, cangkul, dan mesin pemotong rumput. Selain itu, pembersihan lahan juga dapat menggunakan herbisida agar lahan terbebas dari tumbuhan pengganggu seperti semak belukar, alang-alang, dan rerumputan.
  4. Tentukan jarak tanam jabon sesuai tujuan penggunaan kayu yang dihasilkan.
    - Jarak tanam untuk tujuan penanaman jabon sebagai bahan baku pulp biasanya menggunakan jarak tanam 2 x 2 meter atau 3 x 2 meter.
    - veneer biasanya menggunakan jarak 3 x 3 meter.
    - Jarak tanam untuk tujuan penanaman dengan sistem tumpang sari dapat menggunakan 4 x 4 meter, 5 x 5 meter, atau 8 x 8 meter.
  5. Buat lubang tanam pada titik tanam yang telah ditentukan. Umumnya, ukuran lubang tanam yang digunakan 40 x 40 x 40 cm. Sebaiknya, lakukan penggalian lubang tanam satu minggu sebelum ditanami bibit jabon.
  6. Masukkan pupuk kandang atau kompos sebanyak 3—5 kg dan pupuk NPK sebanyak 50—100 gram per lubang tanam.
  7. Tambahkan kapur jika lahan yang digunakan cenderung asam atau memiliki keterbatasan unsur Ca dan Mg. Dosis kapur yang digunakan biasanya 100 gram per lubang tanam.

C. Tanam Jabon dengan Benar

  1. Usahakan proses penanaman jabon dilakukan pada awal musim hujan. Agar bibit tidak mengalami stres, lakukan penanaman pada pagi hari, yaitu pukul 07.00—11.00 atau sore hari pukul 15.00—17.00.
  2. Siapkan bibit jabon. Padatkan media di dalam polibag. Tujuannya, agar media menjadi kompak dan tidak hancur saat polibag dibuka.
  3. Sobek polibag secara hati-hati, masukkan bibit jabon ke dalam lubang tanam hingga sebatas leher akar. Setelah itu, tutup lubang tanam dengan tanah.
  4. Padatkan tanah di sekitar pangkal batang bibit. Bibit harus berada tepat di tengah-tengah lubang tanam dengan posisi tegak lurus. Setelah itu, pasang penyangga (ajir) sebagai penanda.

D. Lakukan Pemeliharaan Jabon dengan Baik

  1. Lakukan pemupukan susulan berupa pupuk NPK setiap enam bulan, pada awal dan akhir musim hujan dengan dosis 100—200 gram per tanaman. Proses pemupukan ini dilakukan hingga tahun ketiga. Tujuannya, untuk mempercepat pertumbuhan jabon. Pemberian pupuk dilakukan di piringan (kedua sisi tanaman secara berlawanan). Caranya, buat lubang dengan kedalaman sekitar 5 cm. masukkan pupuk, lalu tutup kembali lubang tersebut. Pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
  2. Lakukan penyulaman tanaman yang rusak dan mati satu bulan setelah penanaman. Pastikan bibit sulam yang digunakan dalam kondisi sehat dan seumur.
  3. Lakukan penyiangan secara manual atau mekanis di dalam piringan dengan jarak 1 meter dari pokok tanaman. Penyiangan juga dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan herbisida (chemical weeding).

    Tabel 6. Pelaksanaan penyiangan (weeding) berdasarkan waktu dan kondisi gulma
     
    Umur
    Tanaman
    (Bulan)
    Kegiatan
    Kondisi Areal
    Deskripsi
    2 Weeding I Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Buka piringan (radius satu meter)
    Gulma padat dan tinggi Pangkas gulma, lalu lakukan chemical weeding
    5
    Weeding II Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Chemical weeding
    Gulma padat dan tinggi Pangkas gulma, lalu lakukan
    chemical weeding
    8
    Weeding III Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Pangkas atau babat
    12
    Weeding IV Gulma tidak terlalu padat dan tinggi Pangkas atau babat
  4. Lakukan pendangiran sebanyak lima kali dalam setahun dengan jarak piringan sekitar 50 cm dari pokok tanaman. Tujuannya, untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman.
  5. Lakukan pemangkasan cabang kayu yang dekat dengan permukaan tanah, cabang yang rusak, dan cabang yang terkena serangan penyakit bersamaan dengan waktu pendangiran. Caranya, pangkas cabang hingga berjarak sekitar 2—5 cm dari batang utama. Segera tutup luka pangkas dengan bahan penutup luka seperti ter atau parafin. Lakukan pemangkasan hingga tahun kedua. Setelah berumur 2 tahun, jabon sudah mengalami pemangkasan cabang secara alami (self prunning).
  6. Lakukan penjarangan pertama setelah tanaman berumur tiga tahun. Caranya, tebang secara berselang satu pohon di setiap baris atau lajur. Selain untuk pohon siap jual, penjarangan juga dapat dilakukan untuk pohon yang tertekan, batang utama bengkok, menggarpu, bercabang banyak, serta terserang hama dan penyakit.
  7. Lakukan pengendalian hama dan penyakit menggunakan insektisida, fungisida, atau bakterisida. Penggunaan bahan kimia tersebut disesuaikan dengan gejala yang terjadi pada tanaman. Hama yang umum ditemui pada jabon di antaranya uret, ulat grayak, ulat pengisap daun, ulat api, tikus, dan belalang. Sementara itu, penyakit yang sering menyerang jabon di antaranya bercak daun, keriting daun, embun tepung, dan busuk akar.

E. Pemanenan Kayu Jabon

  1. Panen jabon saat berumur 5—6 tahun. Saat umur tersebut, diameter batang utama sudah mencapai 30 cm. Waktu pemanenan juga dapat dilakukan sesuai permintaan pasar.
  2. Sama seperti tanaman kayu lainnya, pemanenan dilakukan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon jabon.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Jabon

Kendala
Solusi
Pertumbuhan jabon relatif lambat Lambatnya pertumbuhan jabon dapat terjadi karena kekurangan unsur hara atau air. Lakukan pemupukan secara benar dan sesuai dosis. Penyiangan dan penyiraman juga perlu dilakukan secara teratur.

G. Analisis Usaha Bisnis Investasi Kayu Jabon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi jabon selama 6 tahun.
  3. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4.
  4. Jarak tanam yang digunakan berukuran 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  5. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam jabon per 6 tahun

Komponen
Harga(Rp)
Jumlah
Satuan
Rincian
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
6
Tahun
12.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
Buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
15.690.000

Komponen
Investasi Tahun ke-1
Reinvestasi Tahun ke-4
Sewa lahan 1 hektare
12.000.000
0
Hand sprayer
700.000
700.000
Cangkul
500.000
500.000
Gembor
240.000
240.000
Garpu
400.000
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
0
Wheel barrow
600.000
600.000
Ember
250.000
250.000
Total biaya
15.690.000
2.690.000
Total Biaya Investasi
18.380.000

Biaya variabel bertanam jabon per 6 tahun

Komponen
Harga (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit jabon
2.000
1.167
Buah
2.334.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
1.000
Kg
3.000.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
10
HOK
400.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
320
HOK
12.800.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
36.409.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                        = Rp18.380.000 + Rp36.409.000
                                        = Rp54.789.000

b. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare Kayu Jabon

1. Pendapatan


Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
harga per m3 (Rp)
Jumlah
Hasil penjarangan I
30
50.000
1500000
Hasil panen
350
750.000
262500000
Total penerimaan
264.000.000

2. Keuntungan

Keuntungan per 6 tahun    = Pendapatan—Total biaya operasional
                                        = Rp264.000.000—Rp54.789.000
                                        = Rp209.211.000

Bisnis Pembibitan Jabon Bersertifikat

A. Keuntungan Bisnis Pembibitan Jabon Bersertifikat

bisnis pembibitan jabon bersertifikat
Bisnis Pembibitan Jabon Bersertifikat. Istilah Jabon mulai banyak dibicarakan sejak beberapa tahun terakhir. Di kalangan masyarakat, tanaman kayu ini dikenal memiliki umur panen yang cepat dan kayu yang dihasilkan memiliki tingkat kelurusan yang sangat bagus. Biaya perawatannya pun relatif rendah karena tidak memerlukan pemangkasan (self pruning). Melihat keunggulan jabon tersebut, masyarakat pun berbondong-bondong berinves-tasi dengan bertanam jabon. Kesempatan ini tentu memberikan peluang yang menggiurkan bagi usaha pembibitan jabon. Terlebih, peluang juga terbuka lebar bagi pemasaran bibit partai besar dari berbagai proyek yang berasal dari instansi pemerintah dan perusahaan tertentu. Umumnya, dalam sekali penjualan lelang atau tender, bibit yang terjual dapat berjumlah ratusan ribu bibit.

B. Menyiapkan Lokasi dan Perlengkapan Pembibitan Jabon

  1. Pilih lokasi pembibitan sesuai dengan syarat tumbuh jabon. Selain itu, lokasi pembibitan juga sebaiknya yang dekat dengan sumber air, seperti sungai, sarana irigasi, dan sumur.
  2. Usahakan lokasi pembibitan terletak di tempat yang strategis dan memiliki akses jalan yang memadai. Tujuannya, untuk memudahkan kunjungan konsumen dan melancarkan proses pengangkutan bibit.
  3. Siapkan perlengkapan pembibitan berupa bak plastik penyemaian berukuran 25 cm x 20 cm, plastik penutup transparan, paranet, sprayer, cangkul, dan alat pertanian lainnya. Agar pembibitan dapat berjalan lancar, sebaiknya siapkan pula lokasi pengolahan media tanam, tempat karantina, dan pagar pembatas lokasi pembibitan.
  4. Sediakan bahan pembibitan seperti benih jabon, pasir halus, kompos, sekam, pupuk NPK, pupuk Gandasil D, polibag, dan obat-obatan.

C. Menyemaikan Benih Jabon

  1. Pilih sumber indukan yang berkualitas baik dan memiliki sertifikasi benih. Benih bisa juga berasal dari tegakan pohon induk yang baik.
  2. Siapkan media semai berupa campuran pasir halus yang telah disangrai dan kompos dengan perbandingan 1 : 1. Masukkan media semai yang telah tercampur rata ke dalam bak plastik penyemaian berukuran 25 cm x 20 cm.
  3. Siram media hingga air menetes dari bawah bak penyemaian.
  4. Campur benih dengan pasir halus agar penyebaran ke dalam bak dapat merata.
  5. Taburkan benih secara merata di atas media. Jumlah benih yang ditabur di dalam satu bak sekitar dua sendok teh.
  6. Tutup bak menggunakan plastik transparan.
  7. Siram persemaian secara rutin setiap dua kali sehari menggunakan sprayer. Setelah 10—30 hari, benih mulai berkecambah.

D. Menyapih Kecambah Jabon

  1. Lakukan penyapihan pada pagi hari agar kecambah tidak mengalami stres akibat suhu tinggi. Usahakan proses penyapihan ini dilakukan di bawah naungan paranet sehingga tidak terkena sinar matahari secara langsung.
  2. Siapkan media tanam berupa campuran tanah, kompos, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
  3. Masukkan media tanam yang telah tercampur rata ke dalam polibag berukuran 10 x 15 cm. Jumlah polibag yang harus disiapkan sekitar 3 kg/bak kecambah. Pasalnya, satu bak kecambah terdapat 500—1.000 bibit siap sapih.
  4. Pilih kecambah yang sudah memiliki 2—3 pasang daun, akarnya tidak patah, dan tidak terluka. Segera tanam kecambah yang telah dipilih ke dalam polibag yang berisi media tanam.
  5. Tempatkan kecambah yang telah disapih di tempat yang telah diberi naungan paranet.

E. Memelihara Bibit Jabon

  1. Siram bibit jabon menggunakan air secukupnya. Jika musim hujan, bibit jabon tidak perlu disiram.
  2. Setiap satu minggu sekali, siram bibit jabon menggunakan air yang telah dicampur dengan fungisida Dithane M-45 dengan dosis sesuai yang tertera pada kemasan.
  3. Setelah bibit berumur dua minggu, lakukan pemupukan sesuai dengan jenis dan dosis yang dianjurkan. Jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk NPK dengan dosis 3—5 gram/polibag. Sementara itu, untuk bibit muda, pupuk yang digunakan 0,25—0,5 gram/polibag.
  4. Setelah bibit berumur tiga bulan, lakukan aplikasi pupuk daun Gandasil D dengan dosis sebanyak 1—2 gram/liter air.
  5. Lakukan pemeliharaan hingga bibit jabon berumur 4—5 bulan.

F. Pemanenan Bibit Jabon

  1. Panen bibit jabon saat berumur 4—5 bulan.
  2. Pastikan bibit memenuhi kriteria sebagai berikut.
    - Kekompakan media jika polibag dibuka tetap utuh
    - Tinggi bibit lebih dari 30—45 cm.
    - Diameter batang 5—8 mm.
    - Warna daun hijau.
    - Bebas penyakit dan hama.
  3. Lakukan pengangkutan saat panen dengan sebaik mungkin. Hindari kondisi daun atau batang tertindih media.
  4. Jika pengangkutan harus menempuh jarak jauh, jaga kelembapan di dalam angkutan dengan memberikan air. Selain itu, buatkan sungkup agar udara tidak langsung mengenai bibit. Sebaiknya, waktu pengangkutan bibit maksimal selama tujuh hari.

G. Kendala dan Solusi Bisnis Pembibitan Jabon


Kendala
Solusi
Benih dapat diperoleh dari buah jabon yang sudah tua atau masak. Namun, sebagian besar penangkar sulit mendapatkan benih jabon karena ukurannya yang sangat kecil. Berikut cara mengekstraksi benih jabon dari pohon indukan yang telah berbuah.
  1. Cacah buah jabon menjadi potongan kecil.
  2. Jemur di bawah terik matahari selama 1-2 hari.
  3. Tumbuk halus cacahan buah jabon, lalu ayak menggunakan saringan dengan kerapatan lubang 0,5-1 mm.
  4. Kemas hasil penyaringan ke dalam plastik kedap udara atau langsung dikecambahkan.
Tingginya tingkat serangan hama kutu putih. Ciri- cirinya, terdapat nimfa atau sejenis kutu di bagian bawah daun jabon. Hama ini menyerang saat kelem- bapan lingkungan cukup tinggi. Cara penanggulangannya bisa meng- gunakan insektisida sesuai dosis dan juga dengan pemotongan daun yang terserang.

H. Analisis Usaha Bisnis Pembibitan Jabon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan merupakan lahan sewa seluas 2.500 m².
  2. Target produksi sebanyak 50.000 bibit.
  3. Benih yang digunakan merupakan benih bersertifikat seharga Rp1.600.000/ons.
  4. Persentase berkecambah benih sebesar 70%.
  5. Persentase bibit siap tanam sebesar 80%.
  6. Jumlah butir benih per kg sebanyak 1.500 butir per gram.
    Kebutuhan benih = Target produksi : (persentase berkecambah x persentase bibit siap salur x jumlah butir benih) = 50.000 : (70% x 80% x 1.500)
    = 60 gram
    = 0,6 ons
  7. Persentase kerusakan polibag sebesar 3%.
  8. Jumlah polibag per kg sebanyak 1.000 buah.
    Kebutuhan polibag = (jumlah bibit + (jumlah bibit x persentase kerusakan)) : jumlah polibag/kg
    = (50.000 + (50.000 x 3%))/1.000 = 51,5 kg
    = 52 kg
  9. Media berupa tanah, arang sekam, dan kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
  10. Pembelian tanah menggunakan mobil colt berkapasitas 7 m³.
  11. Pembelian arang sekam dan kompos berupa kemasan karung dengan kapasitas masing-masing 50 kg dan 20 kg.

b. Rincian Biaya

Biaya investasi pembibitan jabon

Komponen
Harga Satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 2.500 m2
1.000.000
1
Tahun
1.000.000
Paranet
800.000
10
Gulung
8.000.000
Bambu
7.500
125
Batang
937.500
Pembuatan sumur
2.000.000
1
Paket
2.000.000
Pemasangan instalansi listrik
250.000
1
Paket
250.000
Pompa air
750.000
1
Buah
750.000
Sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Saung (barak)
1.000.000
1
Paket
1.000.000
Peralatan pertanian
800.000
1
Paket
800.000
Sungkup plastik
300.000
5
Paket
1.500.000
Total biaya investasi
16.937.500

Biaya tetap pembibitan jabon per periode


Komponen
Masa
Pakai
Harga
(Rp)
Perhitungan
Total Biaya (Rp)
Penyusutan sewa lahan
12
1.500.000
4/12 x Rp1.500.000
500.000
Penyusutan paranet
36
8.000.000
4/36 x Rp8.000.000
888.889
Penyusutan bambu
12
937.500
4/12 x Rp937.500
312.500
Penyusutan sumur
96
2.000.000
4/96 x Rp2.000.000
83.333
Penyusutan instalasi listrik
60
250.000
4/60 x Rp250.000
16.667
Penyusutan pompa air 48
750.000
4/48 x Rp750.000
62.500
Penyusutan sprayer
36
700.000
4/36 x Rp700.000
77.778
Penyusutan saung 60
1.000.000
4/60 x Rp1.000.000
66.667
Penyusutan peralatan pertanian
24
800.000
4/24 x Rp800.000
133.333
Penyusutan sungkup
36
1.500.000
4/36 x Rp1.500.000
166.667
Total biaya tetap
2.308.333

Biaya variabel pembibitan jabon


Komponen
Harga Satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Polibag
25.000
52
Kg
1.300.000
Kompos
10.000
250
Karung
2.500.000
Tanah
300.000
2
Bak
600.000
Arang sekam
10.000
100
Karung
1.000.000
Benih jabon
1.600.000
0,6
Ons
960.000
PupukNPK
3.000
350
Kg
1.050.000
Pupuk Gandasil D
60.000
40
Kg
2.400.000
Pestisida
100.000
3
Kg
300.000
Pembukaan lahan
500.000
1
Borongan
500.000
Biaya listrik
200.000
4
Bulan
800.000
Tenaga pengisian media
50.000
50
Polibag
2.500.000
Tenaga penyapihan
50.000
25
Polibag
1.250.000
Biaya tenaga kerja
1.500.000
4
Bulan
6.000.000
Total biaya variabel
21.160.000
Total biaya operasional = Total biaya tetap + Total biaya variabel
                                        = Rp2.308.333 + Rp21.160.000
                                        = Rp23.468.333

c. Pendapatan dan Keuntungan per Periode Bisnis Pembibitan Jabon

1. Pendapatan

Pendapatan  = Jumlah bibit x harga jual
                     = 50.000 bibit x Rp1.100
                     = Rp55.000.000

2. Keuntungan

Keuntungan  = Pendapatan—total biaya operasional
                     = Rp55.000.000—Rp23.468.333
                     = Rp31.531.667

d. Kelayakan Usaha

1. Rasio R/C

Rasio R/C = Pendapatan : Total biaya operasional
                   = Rp55.000.000 : Rp23.468.333
                   = 2,34
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,34 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,34.

2. Pay Back Period

Pay back period (titik balik modal atau titik impas) adalah perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.
Pay back period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 4 bulan
                            = (Rp16.937.500 : Rp31.531.667) x 4 bulan
                            = 2,15 bulan