Tampilkan postingan dengan label agrobisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agrobisnis. Tampilkan semua postingan

Membuka Usaha Pembuatan Komposter dan Pupuk Cair

membuka usaha pembuatan komposter dan pupuk cair

A. Usaha Pembuatan Komposter

a. Asumsi Usaha Pembuatan Komposter

  • Biaya investasi meliputi pembelian peralatan yang digunakan untuk membuat komposter, seperti gunting, bor, mata bor, dan meteran.
  • Seluruh input yang digunakan untuk membuat komposter dianggap sebagai biaya produksi. Estimasi penyusutan peralatan diasumsikan Rp10.000/hari.
  • Biaya produksi dihitung selama satu hari. Dalam satu hari diestimasikan membuat komposter sebanyak 2 buah.
  • Asumsi harga jual komposter ukuran 20 liter Rp150.000 per buah. Namun, penjual umumnya menawarkan produk komposter dalam satu paket yang terdiri dari komposter 20 liter, bioktivator 1 liter, dan sprayer ukuran 2 liter dengan harga Rp200.000.

b. Biaya Investasi Usaha Pembuatan Komposter

Komponen
Satuan
Biaya Satuan (Rp)
Jumlah biaya (Rp)
Gunting 1 buah
5.000
5.000
Bor 1 buah
250.000
250.000
Meteran 1 buah
25.000
25.000
Mata bor 1 buah
5.000
5.000
Total Biaya Investasi
285.000

c. Biaya Produksi Usaha Pembuatan Komposter

Komponen
Satuan
Biaya Satuan (Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
Tong plastik bekas ukuran 20 liter
2 buah
30.000
60.000
Pipa paralon ukuran 1 inchi 1 batang
25.000
25.000
Kasa plastik 1 meter
10.000
10.000
Keran plastik 2 buah
5.000
10.000
Lem paralon 1 buah
5.000
5.000
Sambungan T ukuran 1 inchi 4 buah
5.000
20.000
Penyusutan peralatan - -
10.000
Total Biaya Produksi untuk Dua Buah Komposter
140.000

d. Pendapatan dan Keuntungan Usaha Pembuatan Komposter

Pendapatan 1 hari  = Jumlah produksi x harga jual komposter
                                = 2 buah x Rp150.000/buah = Rp300.000
Keuntungan 1 hari = Pendapatan - Biaya Produksi
                                = Rp300.000 - Rp140.000 = Rp160.000
Jika diasumsikan hari kerja dalam satu bulan sebanyak 24 hari, keuntungan yang diperoleh selama satu bulan mencapai Rp3.840.000

e. Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Komposter

1. Return of Investment (ROI)
ROI   =  Total Pendapatan    x 100%
              Total Biaya Investasi
ROI   =  Rp300.000  x 100%
               Rp285.000
ROI   =  105,26%
Artinya, usaha ini menghasilkan pendapatan 105,26% dari total biaya investasi yang dikeluarkan.

B. Usaha Pembuatan Pupuk Cair

a. Asumsi Usaha Pembuatan Pupuk Cair

  • Biaya investasi meliputi pembelian peralatan yang digunakan untuk membuat kompos cair, yaitu satu paket komposter, gunting atau pisau, wadah, dan alat pengaduk. Penyusutan seluruh peralatan diestimasikan Rp20.000/bulan.
  • Komposter dibeli dalam satu paket yang terdiri dari komposter 20 liter, bioktivator 1 liter, dan sprayer ukuran 2 liter dengan harga Rp200.000.
  • Bioaktivator yang digunakan untuk membuat pupuk cair setiap bulan sebanyak 10—20 ml. Biaya penggunaannya per bulan sudah dimasukkan ke dalam perhitungan penyusutan peralatan.
  • Bahan baku pupuk cair diasumsikan membutuhkan 5 kg sampah yang diperoleh secara gratis dari limbah rumah tangga atau limbah pasar. Namun, ongkos memilah sampah organik dan ongkos pemotongan atau perajangan dimasukkan ke dalam biaya produksi.
  • Biaya produksi, pendapatan, dan keuntungan dihitung dalam satu bulan.
  • Dalam satu bulan diasumsikan membuat pupuk cair sebanyak dua liter. Namun kenyataan di lapangan, produksi lindi pada bulan berikutnya umumnya meningkat.
  • Harga jual pupuk cair Rp20.000 per liter.

b. Biaya Investasi Usaha Pembuatan Pupuk Cair

Komponen
Satuan
Biaya Satuan (Rp)
Jumlah biaya (Rp)
Komposter,bioaktivator, dan sprayer 1 paket
200.000
200.000
Gunting atau Pisau 1 buah
5.000
5.000
Wadah 1 buah
10.000
10.000
Alat pengaduk 1 buah
10.000
10.000
Total Biaya Investasi
225.000

c. Biaya Produksi Usaha Pembuatan Pupuk Cair

Komponen
Satuan
Biaya Satuan (Rp)
Jumlah Biaya (Rp)
Ongkos pemisahan 5 kg sampah organik
1 paket
3.000
3.000
Ongkos perajangan 5 kg sampah
1 paket
1.000
1.000
Air
1 liter
2.000
2.000
Penyusutan peralatan
-
-
20.000
Jumlah
26.000

d. Pendapatan dan Keuntungan Usaha Pembuatan Pupuk Cair

Pendapatan   = Jumlah produksi x harga jual pupuk cair
                      = 2 liter x Rp20.000/liter = Rp40.000
Keuntungan  = Pendapatan - Biaya Produksi
                      = Rp40.000 - Rp26.000 = Rp14.000
Perhitungan ini berlaku untuk pengolahan sampah di rumah sendiri. Jika dilakukan program secara bersama dalam satu RT atau RW, pupuk cair yang dihasilkan bisa lebih banyak. Otomatis, jika kapasitas produksi banyak, keuntungan pun semakin bertambah.

e. Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Pupuk Cair

Return of Investment (ROI)
ROI  =  Total Pendapatan   x  100%
              Total Biaya Investasi
ROI  =   Rp40.000  x 100%
               Rp225.000
ROI  =   17,78%
Artinya, usaha ini menghasilkan pendapatan 17,78% dari total biaya investasi yang dikeluarkan.

Apa Itu Pupuk Organik dan Kegunaannya?

A. Pengertian Pupuk Organik


apa itu pupuk organik
Apa Itu Pupuk Organik dan Kegunaannya? Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Penggolongan pupuk umumnya didasarkan pada sumber bahan yang digunakan, cara aplikasi, bentuk, dan kandungan unsur haranya. Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibedakan menjadi dua, yakni pupuk cair dan padat. Pupuk cair adalah larutan yang berisi satu atau lebih pembawa unsur yang dibutuhkan tanaman yang mudah larut. Kelebihan pupuk cair adalah mampu memberikan hara sesuai kebutuhan tanaman. Selain itu, pemberiannya dapat lebih merata dan kepekatannya dapat diatur sesuai kebutuhan tanaman. Apa saja jenis pupuk organik dan kegunaannya?
Berdasarkan sumber bahan yang digunakan, pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk anorganik dan pupuk organik. Pupuk anorganik adalah pupuk yang berasal dari bahan
mineral dan telah diubah melalui proses produksi di pabrik sehingga menjadi senyawa kimia yang mudah diserap tanaman.
Sementara itu, pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan organik atau mahluk hidup yang telah mati. Bahan organik ini akan mengalami pembusukan oleh
mikroorganisme sehingga sifat fisiknya akan berbeda dari semula. Pupuk organik termasuk pupuk majemuk lengkap karena kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur
dan mengandung unsur mikro. Jika dilihat dari bentuknya, pupuk organik dibedakan menjadi dua, yakni pupuk organik padat dan cair.

a. Pupuk Organik Padat

Pupuk organik padat adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang berbentuk padat. Dari bahan asalnya, pupuk organik padat dibedakan lagi menjadi pupuk kandang, humus, kompos, dan pupuk hijau.

1. Pupuk Kandang

Pupuk kandang adalah pupuk yang bahan dasarnya berasal dari kotoran ternak, baik kotoran padat maupun campuran sisa makanan dan air kencing ternak. Hampir semua kotoran hewan dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk kandang. Kotoran hewan seperti kambing, domba, sapi, dan ayam merupakan kotoran yang paling sering digunakan untuk dijadikan pupuk kandang.
Pupuk kandang tidak hanya membantu pertumbuhan, tetapi juga dapat membantu menetralkan racun logam berat di dalam tanah. Selain itu, pupuk kandang dapat memperbaiki struktur tanah, membantu penyerapan hara, dan mempertahankan suhu tanah. Pupuk kandang yang telah siap digunakan memiliki ciri dingin, remah, wujud aslinya sudah tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum bisa digunakan. Para petani biasanya menggunakan pupuk kandang dengan cara disebar dan dibenamkan. Namun, penggunaan yang paling baik adalah dengan cara dibenamkan. Pasalnya, penguapan unsur hara akibat proses kimia dalam tanah dapat dikurangi.

2. Pupuk Hijau

Pupuk hijau merupakan pupuk yang berasal dari tanaman atau bagian tanaman tertentu yang masih segar, lalu dibenamkan ke dalam tanah. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk pupuk hijau adalah daun, tangkai, dan batang yang masih muda. Umumnya, semua jenis tanaman bisa dijadikan sebagai pupuk hijau. Namun, jenis tanaman
yang paling bagus untuk pupuk hijau adalah jenis tanaman yang akarnya bersimbiosis dengan mikroorganisme pengikat nitrogen (legum). Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan bahan organik tanah dan unsur hara, khususnya nitrogen.

3. Kompos

Kompos berasal dari sisa bahan organik, baik dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami dekomposisi atau fermentasi. Pada dasarnya, pupuk kandang dan pupuk hijau merupakan bagian dari kompos. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, pelepah pisang, gulma, sayuran busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Sementara itu, bahan dari hewan ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas.

4. Humus

Humus merupakan hasil dekomposisi tumbuhan berupa daun, akar, cabang, ranting, dan bahan secara alami. Proses dekomposisi ini dipengaruhi oleh cuaca di atas permukaan tanah dan dibantu oleh mikroorganisme tanah. Antara humus dengan pupuk hijau sebenarnya memiliki kemiripan. Perbedaannya hanya terletak pada prosesnya. Humus terbentuk secara alami dan sebagian besar terjadi di hutan. Sementara itu, pupuk hijau terbentuk dengan bantuan “campur tangan” manusia.

b. Pupuk Organik Cair

pupuk organik cair
Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik ini adalah mampu mengatasi defisiensi hara secara cepat, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan juga mampu menyediakan hara secara cepat.
Jika dibandingkan dengan pupuk anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman meskipun sudah digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung dimanfaatkan oleh tanaman.

B. Klasifikasi Pupuk Organik Cair

a. Pupuk Kandang Cair

Seperti halnya pupuk yang padat, pupuk kandang cair juga bisa berasal dari kotoran hewan. Namun, pupuk kandang cair berasal dari urine ternak. Berikut kandungan hara makro yang terdapat dalam beberapa jenis kotoran padat dan cair ternak.
Tabel 3. Kandungan hara makro kotoran padat dan cair beberapa
jenis ternak

Dari tabel 3 dapat diketahui perbandingan kandungan makro antara kotoran hewan yang berbentuk padat atau cair. Pada kotoran padat ternyata kandungan nitrogen dan kaliumnya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah persentase di dalam kotoran cair.
Sebenarnya, pupuk kandang cair dapat digunakan bersamaan dengan kotoran padat atau pupuk hijau. Pemberian pupuk kandang cair paling baik diberikan pada tanaman yang sedang dalam masa vegetatif dan masa perkembangbiakan. Pasalnya, tanaman sedang banyak membutuhkan nutrisi pada masa perkembangbiakan.
Selain itu, penggunaan pupuk kandang cair sebaiknya tidak dilakukan sebelum tanaman ditanam. Alasannya, pupuk kandang cair mudah hilang menguap dan tercuci air
hujan.

b. Biogas

Gabungan dari fermentasi bahan organik cair dengan bahan organik padat dikenal dengan istilah biogas. Bahan baku pembuatannya berasal dari manusia, hewan, dan
tumbuhan. Pada dasarnya penggunaan biogas memiliki keuntungan ganda, yaitu gas metana yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai bahan bakar. Selain itu, limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan sebagai residu bisa digunakan sebagai pupuk. Menurut sebuah penelitian, penggunaan limbah biogas secara rutin mampu meningkatkan produksi padi secara berkesinambungan. Lain halnya dengan pupuk kimia sintetis yang dapat menurunkan produksi apabila digunakan secara terus-menerus.
Biogas sendiri sudah bisa dipastikan takaran pemakaiannya. Berdasarkan perhitungan ekonomi dari pemakaian biogas membuktikan penggunaan 30 kg dapat membantu menghasilkan produksi padi sebanyak 4.4 ton per hektare.

c. Pupuk Cair Limbah Organik

Pada dasarnya, limbah cair dari bahan organik bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Sama seperti limbah padat organik, limbah cair banyak mengandung unsur hara, khususnya NPK dan bahan organik lainnya. Penggunaan pupuk dari limbah ini dapat membantu memperbaiki struktur dan kualitas tanah.
Dari sebuah penelitian di Cina menunjukkan penggunaan limbah cair organik mampu meningkatkan produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan bahan organik lainnya. Rata-rata hasil tanaman yang menggunakan pupuk limbah cair organik meningkat 11% dibandingkan dengan pupuk organik lain. Bahkan di Cina, penggunaan pupuk kimia sintetik untuk pupuk dasar mulai “tergeser” dengan keunggulan pupuk cair organik.
Sebelum melakukan penanaman, petani di Cina mencampurkan limbah organik cair dengan tanah di areal persawahan dengan dosis 23 ton/hektare setiap tiga hari. Sementara itu, penggunaan pupuk kimia hanya sebagai pupuk lanjutan yang pengaplikasiannya dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1. Perbandingan ini mampu memperbaiki kondisi tanah dan meningkatkan hasil.

d. Pupuk Cair Limbah Manusia

Pupuk cair dari kotoran manusia sebenarnya merupakan campuran antara kotoran manusia dan cairan yang keluar bersamaan dengan kotoran manusia. Kotoran manusia merupakan komponen utama dari limbah cair organik rumah tangga. Kandungan haranya berbeda-beda tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsinya. Di negara Asia Timur seperti Cina, Taiwan, Korea, dan Jepang, pemanfaatan kotoran manusia sebagai pupuk organik telah lama dikembangkan secara tradisional. Bahkan di Cina, telah ada cara khusus untuk mengumpulkan kotoran manusia. Untuk memanfaatkan kotoran manusia menjadi pupuk dilakukan dengan teknik pengolahan yang sederhana tanpa melalui biogas.
Caranya, kotoran manusia yang akan dibuat kompos dikumpulkan serta dicampur dengan jerami dan sampah organik lainnya. Setelah itu, bahan-bahan tersebut ditimbun beberapa minggu agar terjadi fermentasi. Komposisi kotoran manusia tersusun atas air (66—80%), senyawa organik ( 88—97%), nitrogen (5—7%), fosfor (3—5,4%), kalium (1—2,5%), karbon (40—55%), kalsium (4—5%), dan C/N rasio (5—10).

e. Effective Microorganism (EM)

Banyak ahli yang berpendapat bahwa Effective Microorganism (EM) bukan digolongkan ke dalam pupuk, EM merupakan bahan yang membantu mempercepat proses pembuatan pupuk organik dan meningkatkan kualitasnya. Selain itu, EM juga bermanfaat memperbaiki struktur dan tekstur tanah menjadi lebih baik, serta menyuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Karena itu, penggunaan EM bermanfaat untuk membuat tanaman menjadi lebih subur, sehat, dan relatif tahan terhadap serangan hama penyakit. Berikut beberapa manfaat EM bagi tanaman dan tanah.
  1. Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit tanaman di dalam tanah.
  2. Membantu meningkatkan kapasitas fotosintetis tanaman.
  3. Membantu penyerapan dan penyaluran unsur hara dari akar ke daun.
  4. Meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk.
  5. Meningkatkan kualitas pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman.
Mikroorganisme yang terdapat di dalamnya secara genetika bersifat asli, bukan rekayasa. Umumnya, EM dapat dibuat sendiri menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat. Ada pun cara pembuatan EM sebagai berikut.

Bahan Membuat Pupuk Organik EM

  • 2 liter susu sapi atau susu kambing murni
  • ½ kg terasi (terbuat dari kepala atau kulit udang atau kepala ikan)
  • 1 kg gula pasir
  • 1 kg bekatul
  • 1 buah nanas
  • 10 liter air bersih
  • Usus ayam atau usus kambing secukupnya Alat
  • Panci
  • Kompor
  • Blender atau parutan untuk menghaluskan nanas.

Cara Pembuatan Pupuk Organik EM

  • Haluskan buah nanas dengan blender. Setelah itu, campurkan terasi, bekatul, gula pasir, dan air bersih di dalam panci. Masak hingga mendidih, lalu dinginkan.
  • Tambahkan susu, usus ayam, kambing, atau sapi. Aduk hingga tercampur merata.
  • Tutup rapat-rapat campuran tersebut selama 12 jam atau satu hari. Bila sudah siap jadi akan menjadi kental atau lengket.
  • Jangan gunakan susu yang telah basi karena kemampuan bakteri di dalamnya sudah berkurang. Nanas bermanfaat untuk menghilangkan bau dari hasil proses bakteri.
  • Ciri-ciri keberhasilan pembuatan EM apabila muncul gelembung-gelembung di permukaan bahan.
Demikian penjelasan mengenai  Apa Itu Pupuk Organik dan Kegunaannya. Silakan baca juga artikel lainnya Cara Membuat Pupuk Organik Cair.

Bisnis Pembibitan Buah Naga Sistem Stek

A. Prospek Keuntungan Bisnis Pembibitan Buah Naga

bisnis pembibitan buah naga sistem stek
Bisnis Pembibitan Buah Naga Sistem Stek. Sejak dikenal di Indonesia pada dekade 90-an, popularitas buah naga kini kian meningkat. Tidak hanya karena bentuknya yang unik dengan warna kulit merah menyala, rasanya yang lezat, dan bertekstur renyah membuat buah naga banyak disukai pecinta buah di Indonesia. Belakangan, juga tersiar kabar bahwa buah naga memiliki berbagai khasiat yang baik untuk kesehatan. Karena berbagai keunggulan tersebut, petani tidak segan mencoba menanam buah naga dalam skala besar. Bahkan, saat ini buah naga dapat dijadikan tabulampot agar dapat ditanam di lahan sempit. Kondisi ini tentu membuka peluang usaha tersendiri bagi usaha pembibitan buah naga.
Selain bagi pemula, bisnis pembibitan buah naga juga dapat dilakukan oleh petani buah naga. Petani dapat memanfaatkan pangkasan sulur atau batang tanaman dewasa sebagai bahan setek. Hanya dari satu indukan buah naga yang memiliki 30 cabang berukuran 60 cm, petani dapat menghasilkan 120 bibit buah naga siap jual. Jika harga bibit buah naga saat ini mencapai Rp10.000, maka dari satu indukan petani dapat meraup untung sebesar Rp1,2 juta. Tentu nilai tersebut akan berlipat jika petani memiliki banyak tanaman dewasa yang sudah berbuah.

B. Persiapan Lokasi dan Perlengkapan Pembibitan Buah Naga

  1. Pilih lokasi pembibitan sesuai syarat tumbuh buah naga, di antaranya terletak di dataran menengah hingga tinggi, kondisi kering dengan curah hujan rendah (720 mm/tahun), intensitas cahaya matahari tinggi, dan suhu udara berkisar antara 26—36° C. Agar setek dapat tumbuh baik, lahan sebaiknya dilengkapi dengan naungan plastik transparan.
  2. Siapkan bahan setek berupa cabang buah naga, polibag berukuran 15 cm x 20 cm, dan media tanam berupa tanah, pasir, pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 3 : 1 :1.
  3. Siapkan alat bertanam seperti cangkul, gembor, sprayer, dan gunting tanaman.

C. Perbanyakan Bibit Buah Naga Sistem Stek

  1. Pilih cabang buah naga yang cukup tua untuk dijadikan bahan setek.
  2. Potong dengan ukuran minimum 15 cm. Bedakan ujung atas dengan dipotong mendatar dan ujung bawah dipotong meruncing. Tujuannya, untuk memudahkan proses penanaman agar tidak terbalik.
  3. Angin-anginkan setek agar getahnya mengering.
  4. Sementara itu, campurkan media tanam hingga merata dan masukkan ke dalam polibag.
  5. Tanam setek dengan posisi tegak. Usahakan agar setek tidak terbalik. Posisi yang terbalik akan menyebabkan setek tidak tumbuh.
  6. Padatkan tanah di sekitar setek. Pastikan setek tertancap kuat dan tidak mudah roboh.
  7. Siram dengan teratur sebanyak 2—3 hari sekali.
  8. Tunas akan tumbuh pada minggu kedua setelah tanam.
  9. Lakukan pemangkasan jika terdapat banyak cabang pada bibit. Sisakan 1—2 cabang saja untuk pertum-buhan selanjutnya.
  10. Lakukan penyiangan gulma agar sanitasi tetap terjaga.
  11. Jika bibit terserang hama dan penyakit, pisahkan bibit dan buang bagian yang terserang. Jika tingkat serangan cukup parah, gunakan pestisida tepat jenis dengan dosis sesuai pada label yang tertera di kemasan.
  12. Salurkan bibit setelah berumur 3—5 bulan.

D. Kendala dan Solusi Bisnis Pembibitan Buah Naga


Kendala
Solusi
Jalur sertifikasi bibit yang rumit
Ikut serta dalam asosiasi atau paguyuban buah naga, sehingga memudahkan dalamproses sertifikasi bibit.
Serangan hama seperti kutu kebul, kutu sisik, kutu batok, tungau, bekicot, dan semut
  1. Jaga sanitasi lingkungan tumbuh pembibitan buah naga.
  2. Buang dan musnahkan hama yang terlihat.
  3. Jika serangan cukup parah, gunakan pestisida tepat jenis dengan dosis yang sesuai pada kemasan.
Tingginya serangan penyakit busuk pangkal batang, busuk bakteri, dan layu fusarium - Penataan jarak antartanaman agar tidak terlalu rapat.
- Gunakan media tanam yang porous agar air tidak cepat tergenang.
- Potong dan buang bagian tanaman yang terserang.
- Jika serangan cukup parah, semprotkan pestisida tepat jenis dengan dosis yang sesuai pada kemasan.

E. Analisis Usaha Bisnis Pembibitan Buah Naga

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan merupakan lahan sewa seluas 1.000 m².
  2. Target produksi sebanyak 20.000 bibit dengan masa produksi selama 3 bulan.
  3. Persentase bibit siap tanam sebesar 80%.
  4. Bahan tanam berupa batang atau sulur buah naga. Kebutuhan batang buah naga untuk menghasilkan target bibit setek siap salur sebanyak 20.000 bibit sebagai berikut.
    Kebutuhan bahan setek = Target produksi x 100/persentase bibit siap salur
                                             = 20.000 x 100/80
                                             = 25.000 bahan setek
    Jika dari satu batang buah naga berukuran 60 cm dapat menghasilkan 4 bahan setek, maka jumlah batang yang harus disediakan adalah 6.250 batang.
  5. Persentase kerusakan polibag sebesar 3%.
  6. Jumlah polibag per kg sebanyak 1.000 buah.
    Kebutuhan polibag = (jumlah bibit + (jumlah bibit x persentase kerusakan)) : jumlah polibag/kg
                                    = (20.000 + (20.000 x 3%))/1.000
                                    = 21 kg
  7. Media berupa tanah, pasir, pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 3 : 1 : 1.
  8. Pembelian tanah dan pasir menggunakan mobil colt berkapasitas 7 m³.

b. Rincian Biaya

—Biaya Investasi


Komponen
Harga Satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1.000 m2
750.000
1
Tahun
750.000
Paranet
875.000
4
Gulung
3.500.000
Bambu
7.500
50
Batang
375.000
Pembuatan sumur
2.000.000
1
Paket
2.000.000
Pemasangan instalansi listrik
250.000
1
Paket
250.000
Pompa air
750.000
1
Buah
750.000
Sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Saung (barak)
1.000.000
1
Paket
1.000.000
Gunting setek
50.000
5
Paket
250.000
Peralatan pertanian
350.000
2
Paket
700.000
Sungkup plastik
300.000
2
paket
600.000
Total biaya investasi
10.875.000

—Biaya Tetap per Periode


Komponen
Masa Pakai (Bulan)
Harga
(Rp)
Penyusutan
Total Biaya (Rp)
Penyusutan sewa lahan
12
750.000
3/12 x Rp750.000
187.500
Penyusutan paranet
36
3.500.000
3/36 x Rp3.500.000
291.667
Penyusutan bambu
12
375.000
3/12 x Rp375.000
93.750
Penyusutan sumur
180
2.000.000
3/180 x Rp2.000.000
33.333
Penyusutan instalasi listrik
60
250.000
3/60 x Rp250.000
12.500
Penyusutan pompa air
96
750.000
3/96 x Rp750.000
23.438
Penyusutan sprayer
36
700.000
3/36 x Rp700.000
58.333
Penyusutan saung
60
1.000.000
3/60 x Rp1.000.000
50.000
Penyusutan gunting setek
36
250.000
3/36 x Rp250.000
20.833
Penyusutan peralatan pertanian
24
700.000
3/24 x Rp700.000
87.500
Penyusutan sungkup
36
600.000
3/36 x Rp600.000
50.000
Total biaya tetap
908.854

—Biaya Variabel per Periode


Komponen
Harga Satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Polibag
25.000
21
Kg
525.000
Pupuk kandang
10.000
40
Karung
400.000
Tanah
300.000
1
Bak colt
300.000
Arang sekam
10.000
15
Karung
150.000
Pasir
175.000
1
Bak colt
175.000
Batang buah naga
6.000
6250
Batang
37.500.000
PupukNPK
4.100
120
Kg
492.000
Pestisida
100.000
2
Kg
200.000
Pembukaan lahan
100.000
1
Paket
100.000
Biaya listrik
50.000
3
Bulan
150.000
Tenaga borongan pengisian media
50
20.000
Polibag
1.000.000
Tenaga borongan setek
500
25.000
Polibag
12.500.000
Biaya tenaga kerja tetap
600.000
3
bulan
1.800.000
Total biaya variabel
55.292.000
—Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional = Total biaya tetap + Total biaya variabel
                                = Rp908.854 + Rp55.292.000
                                = Rp56.200.854

c. Pendapatan dan Keuntungan Bisnis Pembibitan Buah Naga

—Pendapatan per Periode
Pendapatan = Jumlah bibit siap salur x Harga bibit
                   = 20.000 x Rp7.250
                   = Rp145.000.000
—Keuntungan per Periode
Keuntungan  = Pendapatan—Total biaya operasional
                   = Rp145.000.000— Rp56.200.854
                   = Rp88.799.146

d. Kelayakan Usaha Bisnis Pembibitan Buah Naga

—R/C rasio
Rasio R/C = Pendapatan : Total biaya operasional
                 = Rp145.000.000 : Rp56.200.854
                 = 2,58
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,58 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,58.
—Pay back period
Pay back period (titik balik modal atau titik impas) adalah perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.
Payback period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 3 bulan
                         = (Rp10.875.000: Rp88.799.146) x 3 bulan
                         = 0,37 bulan

Anda tertarik? Silakan dicoba untuk memulai bisnis pembibitan buah naga sistem stek. Analisa bisnis untuk usaha pertanian lainnya dapat Anda baca di bagian Agro Bisnis yang membahas prospek industri pertanian sekaligus analisis usaha dalam berbagai perhitungan modal, pengeluaran, hingga keuntungan.

Untung Ratusan Juta Rupiah dari Investasi Kayu Jati

A. Keuntungan Bisnis Investasi Kayu Jati

investasi kayu jati
Untung Ratusan Juta Rupiah dari Investasi Kayu Jati. Berkat kekuatan, keawetan dan keindahannya, kayu jati dipilih sebagai jenis kayu kelas satu di Indonesia. Tidak heran, jika harga jual kayu jati sangatlah mahal. Bahkan, dapat mencapai jutaan rupiah per batang. Selain untuk keperluan domestik, adanya peningkatan ekspor furnitur berbahan kayu jati juga menyebabkan permintaan kayu jati menjadi semakin meroket. Biasanya, permintaan tersebut dipenuhi oleh pasokan kayu jati yang berasal dari perhutani dan kayu rakyat. Namun, hingga saat ini, produksi kayu jati di kedua sumber tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan pasar kayu secara keseluruhan. Karena itu, bertanam kayu jati sangat potensial dipilih sebagai primadona investasi usaha di bidang agroforestry. Tidak heran jika anda bisa meraih untung ratusan juta rupiah dari investasi kayu jati.
Keunggulan Bertanam Jati
  • Jati dapat ditanam di tanah kritis.
  • Jati relatif tahan terhadap kekeringan.
  • Jati relatif tahan terhadap tiupan angin.
  • Tegakan jati lebih hemat lahan.
  • Tegakan jati lebih mudah dalam perawatan dan pemeliharaan.
  • Jati dapat ditanam dengan pola tumpang sari (agroforestry).
  • Jati lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Permintaan kayu jati dan harga kayu jati semakin meningkat.

B. Persiapan Lahan Menanam Kayu Jati

  1. Pilih lahan yang sesuai dengan syarat tumbuh jati, di antaranya ketinggian maksimum 700 m dpl, suhu udara 13—43° C, pH tanah 6, kelembapan lingkungan 60—80%, dan curah hujan 1.000—1.500 mm/tahun. Agar kayu jati yang dihasilkan termasuk kualitas kayu mewah (fancy wood), usahakan jati ditanam di daerah yang memiliki kemarau yang panjang.
  2. Lakukan pembersihan lahan (land clearing) untuk menghilangkan gulma yang tumbuh.
  3. Tentukan titik tanam dengan memasang pancang yang terbuat dari ajir. Pada penanaman jati secara monokultur, jarak tanam idealnya 3 x 3 meter. Sementara untuk pola agroforestry (pola tumpang sari), jarak tanam biasanya menyesuaikan dengan jenis tanaman tumpang sari lainnya.
  4. Buat lubang tanam di tempat yang telah ditentukan. Caranya, gali tanah dengan ukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan kedalaman 30 cm. Setelah digali, lubang tanam dibiarkan terlebih dahulu selama 2—3 hari.

C. Penanaman Bibit Jati

  1. Siapkan bibit jati yang telah memiliki kriteria sebagai berikut.
    - Batang tunggal, kokoh, dan sudah berkayu.
    - Bibit tumbuh tegak, antara diameter dan tinggi tampak seimbang.
    - Tinggi bibit minimum 30 cm.
    - Pucuk sehat, daun segar, serta tidak terserang hama dan penyakit.
    - Akar tanaman sehat dan kuat mengikat media di dalam polibag
  2. Hitung jumlah bibit yang dibutuhkan dengan cara membagi luas lahan dengan jarak tanam yang digunakan. Jika luas lahan yang digunakan 1 ha atau 10.000 m² dan jarak tanam 3 x 3 meter, maka jumlah bibit yang dibutuhkan sebanyak 1.111 bibit. Selain bibit yang ditanam, siapkan juga bibit sulaman maksimum 5% dari jumlah bibit yang ditanam.
  3. Lepaskan polibag dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran dan media tanam bibit. Jika polibag sukar dilepaskan, remas sedikit bagian samping polibag. Usahakan tanah di dalam polibag tidak pecah saat penanaman.
  4. Tempatkan bibit tepat di bagian tengah lubang tanam.
  5. Masukkan kompos atau pupuk kandang sebanyak 5—15 kg per lubang tanam.
  6. Masukkan kembali tanah galian ke dalam lubang tanam. Padatkan sedikit agar bibit tidak mudah roboh.

D. Pemeliharaan Bibit Jati

  1. Jika terdapat bibit yang mati atau rusak setelah penanaman, segera lakukan penyulaman. Bibit sulaman sebaiknya memiliki kualitas yang baik dan umur yang hampir sama dengan yang diganti sehingga pertumbuhan jati tetap seragam.
  2. Lakukan penyiangan terhadap ilalang, gulma, dan tanaman pengganggu lainnya secara intensif pada awal tahun penanaman agar pertumbuhan jati tidak terhambat. Selain itu, penyiangan perlu dilakukan pada awal dan akhir musim hujan.
  3. Lakukan pemupukan menggunakan kompos atau pupuk kandang. Jumlah pupuk yang diberikan biasanya 5—15 kg per lubang tanam pada awal membuat lubang tanam. Selain pupuk alami, gunakan juga pupuk NPK untuk mempercepat pertumbuhan. Lakukan pemupukan hingga tahun ke-3. Dosisnya 50 gram pada tahun ke-1, 100 gram pada tahun ke-2, 150 gram pada tahun ke-3.
  4. Lakukan pemangkasan (pruning) pada cabang untuk meningkatkan tinggi bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama. Caranya, potong cabang batang utama pohon jati. Buatlah potongan tersebut sehalus mungkin, agak miring, dan tidak mendatar. Usahakan pemangkasan menggunakan gergaji atau gunting wiwil. Agar tidak menjadi tempat masuknya hama dan penyakit, bekas pangkasan ditutup dengan cat atau ter.
  5. Untuk pola tanam monokultur, lakukan penjarangan setiap 3—5 tahun sampai pohon berumur 15 tahun. Pohon yang dijarangkan (ditebang) adalah pohon yang terserang penyakit, bentuk batangnya cacat atau tumbuh abnormal, dan pertumbuhannya lambat atautertekan. Selain itu, penjarangan juga dapat dilakukan untuk pohon berukuran besar (siap jual). Penjarangan ini bersifat penjarangan komersial.
  6. Pastikan pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan jenis yang menyerang. Jenis hama yang menyerang jati di antaranya ulat jati, uret, penggerek batang, inger-inger, dan penggerek bubuk kayu basah. Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida sesuai takaran yang dianjurkan. Sementara itu, beberapa penyakit yang biasa menyerang jati di antaranya penyakit layu, penyakit mati pucuk, penyakit jamur upas, dan penyakit kanker batang. Pengendalian penyakit ini biasanya menggunakan fungisida atau bakterisida.
  7. Sebelum hama dan penyakit menyerang, sebaiknya kita melakukan pencegahan. Berikut beberapa tindakan pencegahan hama dan penyakit yang dapat dilakukan.
    - Atur jarak tanam agar jati tetap terkena cahaya matahari dan sirkulasi udaranya baik.
    - Lakukan pemangkasan secara teratur.
    - Lakukan pemupukan untuk memacu pertumbuhan tanaman.
    - Lakukan penyiangan secara rutin agar inang atau carrier hama dan penyakit dapat terbasmi sebelum menulari jati.

E. Pemanenan Kayu Jati

  1. Panen jati saat yang berumur 15—20 tahun atau saat batang utama jati berdiameter sekitar 30 cm.
  2. Lakukan pemanenan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon jati.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainnya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Jati

Kendala
Solusi
Kayu jati retak atau patah setelah panen Satu tahun sebelum dipanen, lakukan teres terlebih dahulu. Teres dilakukan dengan cara membacok sekeliling batang utama lalu membiarkannya. Proses peneresan bertujuan untuk mematikan pohon, mengurangi kadar air. Jika tidak diteres, batang utama berisiko rusak akibat kadar air batang terlalu tinggi.

G. Analisis Biaya Bisnis Investasi Kayu Jati

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi jati selama 15 tahun.
  3. Masa pakai hand sprayer, pompa air, dan wheel barrow diasumsikan selama 5 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-6 dan tahun ke-11.
  4. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4, ke-7, dan ke-13.
  5. Jarak tanam yang digunakan berukuran 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  6. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam jati per 15 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
15
Tahun
30.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
33.690.000

Biaya reinvestasi

Komponen
Investasi


Reinvestasi
tahun
ke-1
Tahun
ke-4
Tahun
ke-6
Tahun
ke-7
Tahun
ke-11
Tahun
ke-13
Sewa lahan
30.000.000
-
-
-
-
-
Hand sprayer
700.000
-
700.000
-
700.000
-
Cangkul
500.000
500.000
-
500000
-
500000
Gembor
240.000
240.000
-
240000
-
240000
Garpu
400.000
400.000
-
400000
-
400000
Pompa air dan selang
1.000.000
-
1.000.000
-
1.000.000
-
Wheel barrow
600.000
-
600.000
-
600.000
-
Ember
250.000
250.000
-
250000
-
250000
Total biaya
33.690.000
1.390.000
2.300.000
1.390.000
2.300.000
1.390.000
Total biaya investasi
42.460.000

Biaya variabel bertanam jati per 15 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit jati
3.000
1.167
Buah
3.501.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
335
Kg
1.005.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
10
HOK
400.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
10
HOK
400.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
800
HOK
32.000.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
54.781.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                         = Rp42.460.000 + Rp54.781.000
                                        = Rp97.241.000

c. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare

1. Pendapatan

Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Hasil penjarangan I
50
150.000
7.500.000
Hasil penjarangan II
75
350.000
26.250.000
Hasil panen
370
1.500.000
555.000.000
Total
588.750.000

2. Keuntungan

Keuntungan = Pendapatan—total biaya tahun
                   = Rp588.750.000— Rp97.241.000
                   = Rp491.509.000

Selain bisnis investasi kayu jati, Anda juga dapat membuka lahan bisnis pembibitan pohon jati sehingga perputaran usaha dapat berjalan lebih cepat dengan modal yang relatif kecil, tergantung skala usaha.

Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Sengon

A. Prospek Menguntungkan Bisnis Investasi Kayu Sengon

bisnis investasi kayu sengon
Untung Besar Bisnis Investasi Kayu Sengon. Peluang bisnis bertanam sengon kini terbuka lebar. Pasalnya, permintaan pasar terhadap kayu sengon mencapai lebih dari 500.000 m3/tahun. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat seiring dengan tingginya permintaan bahan baku dari industri perkayuan domestik, seperti industri kertas, kayu lapis, kotak peti, dan kayu pertukangan. Tidak hanya itu, saat ini perkembangan bisnis kayu sengon juga sudah menembus pasar internasional. Terbukti, permintaan kayu sengon olahan berupa potongan-potongan kayu untuk tujuan ekspor kini semakin meningkat. Selain adanya jaminan pasar, bisnis kayu sengon mulai dilirik karena menghasilkan rupiah yang tidak sedikit. Tidak perlu menunggu hingga puluhan tahun, pekebun dapat memperoleh laba hingga ratusan juta rupiah dengan luas tanam hanya satu hektare.

B. Persiapan Lahan Menanam Sengon

  1. Pastikan lahan yang akan digunakan memenuhi persyaratan tumbuh sengon, seperti ketinggian lahan maksimum 800 m dpl, suhu 18—27°C, pH tanah 6—7, curah hujan 2.000—4.000 mm/tahun, dan kelembapan 50—75%. Sengon akan tumbuh optimal pada jenis tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu.
  2. Bersihkan lahan dari gulma dan semak belukar secara manual atau kimiawi (herbisida). Pembersihan meliputi jalur tanam dan daerah piringan pada awal musim kemarau.
  3. Tentukan jarak tanam sengon. Umumnya, jarak tanam yang digunakan pekebun sengon monokultur adalah 3 x 3 meter atau 2 x 3 meter. Tandai titik tanam menggunakan ajir.
  4. Lakukan pengolahan lahan dengan cara mencangkul atau membajak tanah sedalam 20—25 cm. Hancurkan tanah yang memadat. Pengolahan tanah biasanya dilakukan di sekitar piringin dengan diameter 1—2 meter dari titik tanam.
  5. Buat lubang tanam berukuran 40 x 40 x 40 cm. Penggalian lubang tanam dilakukan satu minggu sebelum ditanami bibit sengon.
  6. Masukkan pupuk kandang sebanyak 2—4 kg per lubang tanam.
  7. Tambahkan kapur jika lahan yang digunakan cenderung asam atau memiliki keterbatasan unsur Ca dan Mg. Dosis kapur yang digunakan biasanya 100 gram per lubang tanam.

C. Pananaman Bibit Sengon secara Benar

  1. Usahakan penanaman sengon dilakukan pada awal musim hujan. Agar bibit tidak stres, penanaman dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 07.00—11.00 atau sore hari pukul 15.00—17.00.
  2. Siapkan bibit sengon sesuai luas lahan dan jarak tanam yang digunakan. Jika lahan yang digunakan seluas 1 ha dan jarak tanam 3 x 3 meter, maka jumlah bibit yang harus disiapkan sebanyak 1.111 bibit ditambah dengan bibit sulam sebanyak 5% dari jumlah kebutuhan bibit.
  3. Padatkan media di dalam polibag terlebih dahulu agar media menjadi kompak.
  4. Lepaskan polibag secara hati-hati, masukkan bibit sengon ke dalam lubang tanam. Pastikan bibit berada tepat di bagian tengah lubang tanam dengan posisi tegak lurus.
  5. Tutup lubang tanam dengan tanah. Padatkan tanah di sekitar pangkal batang bibit.
  6. Pasang penyangga (ajir) sebagai penanda.

D. Melakukan Pemeliharaan secara Teratur

  1. Lakukan pemupukan setiap empat bulan sekali hingga satu tahun sebelum panen pada awal dan akhir musim hujan. Pupuk yang digunakan berupa pupuk yang mengandung unsur P dan K sebanyak 100—200 gram per lubang tanam. Pupuk tersebut diaplikasikan dengan cara dibenamkan di sekitar piringan tegakan. Usahakan pemupukan dilakukan pada pagi hari (06.00—09.30) atau sore hari (16.00—18.00).
  2. Lakukan penyulaman setelah sengon berumur lebih dari satu bulan. Waktu penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Bibit yang diganti adalah bibit yang rusak, patah, atau terserang hama dan penyakit.
  3. Lakukan penyiangan sebanyak 4—5 kali dalam setahun hingga satu tahun sebelum panen. Penyiangan dapat dilakukan secara teknis manual atau kimiawi menggunakan herbisida. Beberapa jenis herbisida yang biasa digunakan di antaranya Tordon 101, Garlon 480 EC, dan Indamin 720 HC.
  4. Lakukan pemangkasan cabang yang tumbuh saling bersilangan. Tujuannya, agar paparan sinar matahari menuju tajuk tetap optimal.
  5. Lakukan penjarangan tegakan sengon yang lambat tumbuh, tertekan, atau menunjukkan gejala terserang hama dan penyakit.
  6. Lakukan pengendalian hama dan penyakit yang  menyerang sengon, seperti hama boktor, penyakit karat puru, dan penyakit akar merah. Gunakan pestisida secara bijak dan memenuhi syarat (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu).
     
Segera Tangani Sengon yang Terserang Penyakit Karat Puru!
Penyakit karat puru atau karat tumor (gall rust) merupakan penyakit utama yang sering menyerang sengon pada berbagai umur. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan serius, seperti batang utama menjadi rusak dan cacat.
- Pengendalian penyakit karat puru yang menyerang sengon berumur 0—3 tahun. Lakukan pengerokan tumor lalu semprot dengan spiritus.
- Oleskan larutan kapur dan garam dapur. Larutan tersebut dibuat dengan cara mencampur 10 kg kapur dan 1 kg garam yang dilarutkan ke dalam 10 liter air. Lakukan pengolesan setiap minggu.
- Selain campuran tersebut, gunakan juga campuran belerang dan kapur dengan perbandingan 1 : 1 dalam 10 liter air.
Sementara itu, untuk sengon dewasa yang terserang, perlu dilakukan pemotongan dengan radius 10 cm dari bagian yang terinfeksi. Bungkus dengan karung, lalu bakar.

E. Pemanenan Kayu Sengon

  1. Panen sengon dilakukan saat berumur 5—7 tahun. Saat umur tersebut, diameter batang utama sudah mencapai 30 cm.
  2. Sama seperti tanaman kayu lainnya, lakukan pemanenan dengan cara ditebang. Berikut teknis penebangan pohon sengon.
    - Kurangi cabang dan ranting.
    - Potong dengan gergaji sebagian sisi batang sejajar dengan arah rebah pohon (takik rebah). Jarak antara alas dan atap takik rebah maksimum 5 cm.
    - Potong sisi lainnya dengan gergaji setinggi bagian paling atas takik rebah sebagai takik balas. Setelah itu, pohon akan jatuh ke arah takik rebah.

F. Kendala dan Solusi Bisnis Investasi Kayu Sengon

Kendala
Solusi
Pertumbuhan sengon relatif lambat Alternatif mempercepat pertumbuhan bisa dilakukan dengan memberikan pupuk hayati. Semprotkan pupuk hayati dengan konsentrasi 200-300 cc/14 liter air. Penyemprotan dilakukan di dinding lubang tanam sebelum penanaman sengon.
Jika sengon sudah ditanam, semprotkan larutan tersebut ke seluruh bagian tanaman setiap tiga bulan. Penyemprotan dilakukan sekitar 10 detik per tanaman.

G. Analisis Usaha Bisnis Investasi Kayu Sengon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan berupa lahan sewa seluas 1 hektare.
  2. Masa produksi sengon selama 6 tahun.
  3. Masa pakai peralatan pertanian seperti cangkul, gembor, garpu, dan ember diasumsikan selama 3 tahun, sehingga dilakukan reinvestasi pada tahun ke-4.
  4. Jarak tanam yang digunakan sebesar 3 x 3 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 1.111 bibit. Pengadaan bibit ditambah 5% dari jumlah bibit yang dibutuhkan sebagai persediaan bibit sulam.
  5. Biaya pekerjaan 1 HOK sebesar Rp40.000 (1HOK = 7 jam kerja/hari).

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam sengon per 6 tahun

Komponen
Harga satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Sewa lahan 1 hektare
2.000.000
6
Tahun
12.000.000
Hand sprayer
350.000
2
Buah
700.000
Cangkul
50.000
10
Buah
500.000
Gembor
30.000
8
Buah
240.000
Garpu
50.000
8
Buah
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
1
Buah
1.000.000
Wheel barrow
200.000
3
Buah
600.000
Ember
25.000
10
Buah
250.000
Total Investasi tahun ke-1
15.690.000

Biaya reinvestasi

Komponen
Investasi Tahun ke-1
Reinvestasi Tahun ke-4
Sewa lahan 1 hektare
12.000.000
-
Hand sprayer
700.000
700.000
Cangkul
500.000
500.000
Gembor
240.000
240.000
Garpu
400.000
400.000
Pompa air dan selang
1.000.000
-
Wheel barrow
600.000
600.000
Ember
250.000
250.000
Total biaya
15.690.000
2.690.000
Total biaya investasi
18.380.000

Biaya variabel bertanam sengon per 6 tahun

Komponen
Harga satuan (Rp)
Jumlah
Satuan
Total biaya (Rp)
Biaya Input
Bibit sengon
2.000
1.167
Buah
2.334.000
Pupuk kandang
500
11.110
Kg
5.555.000
PupukNPK
3.000
1.650
Kg
4.950.000
Pestisida
50.000
20
Kg
1.000.000
Biaya Tenaga Kerja
Pembukaan lahan
2.000.000
1
Borongan
2.000.000
Pembuatan lubang tanam
40.000
70
HOK
2.800.000
Penanaman
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan dasar
40.000
8
HOK
320.000
Pemupukan tahun ke-1
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan tahun ke-2
40.000
15
HOK
600.000
Pemupukan tahun ke-3
40.000
15
HOK
600.000
Pemeliharaan 2 kali setahun
40.000
320
HOK
12.800.000
Penjarangan I
40.000
20
HOK
800.000
Penjarangan II
40.000
40
HOK
1.600.000
Pemanenan
40.000
60
HOK
2.400.000
Total Biaya Variabel
38.959.000
Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                        = Rp18.380.000 + Rp38.959.000
                                        = Rp57.339.000

b. Pendapatan dan Keuntungan per Hektare Kayu Sengon

1. Pendapatan

Penerimaan
Jumlah kayu yang dihasilkan (m3)
harga per m3 (Rp)
Jumlah
Hasil penjarangan I
30
50.000
1.500.000
Hasil penjarangan II
50
100.000
5.000.000
Hasil panen
400
650.000
260.000.000
Total penerimaan
266.500.000

2. Keuntungan

Keuntungan per 6 tahun = Pendapatan—Total biaya operasional
                                     = Rp266.500.000—Rp57.339.000
                                     = Rp209.161.000

Sekian penjelasan aspek bisnis investasi kayu sengon. Anda juga dapat membuka usaha di bidang pembibitan sengon sebagai pilihan lain.