Monday, April 25, 2016

Bisnis Pembibitan Sengon

A. Keuntungan Bisnis Pembibitan Sengon

bisnis pembibitan sengon
Bisnis Pembibitan Sengon. Sengon merupakan salah satu jenis tanaman kayu yang cukup populer. Kepopuleran sengon diraih sejak Kementerian Kehutanan menggalakkan program sengonisasi 300.000 hektare pada tahun 1989. Selain bertujuan untuk mencegah erosi di aliran DAS, ternyata sengon juga dapat menghasilkan kayu dengan kualitas yang baik. Saat ini, kayu yang dihasilkan sengon dapat diolah menjadi produk olahan yang bernilai ekonomi tinggi, seperti palet kayu, vinir kayu, dan block board. Berkat program sengonisasi dan tingginya daya jual kayu sengon, permintaan bibit sengon pun mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini tentu membuat peluang bisnis membibitkan sengon menjadi sangat terbuka.
Mendapatkan Bibit Sengon dengan Cangkok
Selain menggunakan biji atau benih, bibit sengon ternyata dapat diperolah dengan cara pencangkokan. Syaratnya, tetap menyisakan tunggul batang pada saat panen sengon. Dari tunggul tersebut, biasanya akan tumbuh trubusan baru yang dapat dijadikan bibit. Dengan metode ini, panen menjadi lebih cepat dan menghemat biaya. Pembuatan bibit cangkokan sudah lazim dilakukan oleh petani hutan. Keunggulan cangkok adalah sifat unggul induknya diturunkan kepada anaknya. Karena itu, pohon indukan harus dipilih yang benar-benar unggul, seperti pertumbuhannya cepat, batang lurus, serta bebas hama dan penyakit.

B. Menyiapkan Lokasi dan Perlengkapan Pembibitan Sengon

  1. Pilih lokasi pembibitan sesuai dengan syarat tumbuh sengon. Idealnya, lokasi terletak di ketinggian 0—800 m dpl dan beriklim basah dengan curah hujan 2.000—4.000 mm/tahun. Lokasi pembibitan juga diutamakan berupa lahan datar dengan derajat kemiringan maksimum 5%. Pastikan tanah yang digunakan berupa tanah subur dan gembur dengan pH tanah berkisar antara 6—7.
  2. Usahakan lokasi pembibitan terletak di tempat yang strategis dan memiliki akses jalan yang memadai. Tujuannya, untuk memudahkan kunjungan konsumen dan melancarkan proses pengangkutan bibit. Selain itu, lokasi pembibitan juga sebaiknya dekat dengan sumber air, seperti sungai, sarana irigasi, dan sumur.
  3. Siapkan perlengkapan penyemaian dan pembibitan berupa ayakan, alat sangrai, bedeng tabur seluas 5 x 1 m², bedeng sapih, hand sprayer, cangkul, kored, dan alat pertanian lainnya.
  4. Siapkan bahan berupa benih sengon, pasir halus, kompos, pupuk kandang, pupuk TSP, dan pestisida jika diperlukan.

C. Menyemaikan Benih Sengon

  1. Pastikan benih sengon yang akan ditanam merupakan benih bersertifikat yang diperoleh dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH). Benih berkualitas ini sangat penting bagi penangkar sengon. Pasalnya, benih yang ditanam harus bebas dari hama dan penyakit, khususnya penyakit karat tumor. Selain membeli dari sumber benih, benih sengon juga dapat diperoleh dengan cara mengekstraksi dari pohon indukan sengon yang telah berbuah.
  2. Rendam benih di dalam air mendidih selama 5—10 menit, lalu tiriskan. Setelah itu, rendam kembali di dalam air dingin selama 24 jam. Perlakuan tersebut merupakan salah satu cara untuk memecah dormansi benih.
  3. Sementara itu, siapkan bedeng tabur berukuran 5 x 1 m dengan media tanam berupa campuran tanah dan pasir (1 : 2) yang telah disangrai.
  4. Buat larikan searah panjang bedengan dengan jarak antar-larikan sebesar 5 cm.
  5. Taburkan benih secara merata di dalam larikan, kemudian tutup kembali larikan dengan tanah secara tipis. Umumnya, untuk luasan bedeng tabur 5 m², diperlukan 200 gram benih sengon.

D. Menyapih Bibit Sengon

  1. Lakukan penyapihan setelah kecambah sengon berumur 10—14 hari.
  2. Siapkan bedeng sapih berukuran lebar 1 m dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Tinggi bedeng sebaiknya 10—15 cm.
  3. Siapkan polibag berukuran 10 x 15 cm. Isi polibag menggunakan media tanam berupa campuran tanah, pasir, dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1 hingga tiga perempat bagian polibag.
  4. Pilih kecambah yang memiliki pertumbuhan normal, batang lurus, serta tidak terserang hama dan penyakit. Cungkil kecambah beserta tanah yang berada di sekitar akar agar perakaran kecambah tersebut tidak rusak. Tanam kecambah ke dalam polibag dan tambahkan media tanam agar kecambah tidak mudah roboh.
  5. Susun polibag yang telah berisi kecambah sengon di bedeng sapih yang telah disediakan. Buat pelabelan sesuai tanggal sapih untuk memudahkan pendataan.
  6. Lakukan pemeliharaan kecambah selama 3—5 bulan hingga bibit siap jual.

E. Memelihara Bibit Sengon

  1. Lakukan penyiraman dua atau tiga kali sehari pada pagi dan sore hari. Namun, pada saat musim hujan, penyiraman tidak perlu dilakukan.
  2. Siangi gulma secara teratur untuk menghindari persaingan dalam proses penyerapan makanan. Saat penyiangan, perlu juga dilakukan pemeriksaan kondisi bibit, pisahkan bibit yang terkena hama atau penyakit. Penyakit yang biasanya menyerang bibit sengon adalah dumping off dan busuk akar.
  3. Lakukan pemupukan menggunakan campuran pupuk kandang, TSP, dan air dengan dosis dua sendok makan per polibag setiap dua minggu. Campuran pupuk tersebut dibuat dengan cara menyiapkan satu drum atau tong bekas berkapasitas 200 liter, lalu isikan setengah kapasitas drum dengan pupuk kandang. Tambahkan air hingga tiga perempat kapasitas drum dan tambahkan 15 kg TSP. Biarkan selama seminggu sebelum diaplikasikan pada bibit sengon.

F. Memanen Bibit Sengon

  1. Lakukan pemanenan saat bibit sengon berumur 3—5 bulan.
  2. Pastikan bibit sengon telah memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut.
No.
Kriteria
Mutu Pertama
Mutu Kedua
1. Kekompakan media Utuh Retak
2. Tinggi 36-45 cm 25-45 cm
3. Diameter 4-7 mm 3-4 mm
4. Nilai kekokohan bibit 51-90 62-88
5. Warna daun Hijau
Hijau muda sebagian

G. Kendala dan Solusi Bisnis Pembibitan Sengon

Kendala
Solusi
Kualitas benih sengon kurang baik Untuk memilih benih berkualitas, dapat dilakukan beberapa tip. Bungkus benih yang telah ditetesi air menggunakan aluminium foil. Panaskan menggunakan oven pada suhu 50o C dengan kelembapan 100% selama 4 jam. Setelah itu, rendam benih di dalam air bersih. Benih yang bermutu baik akan tenggelam.
Penyakit sering menyerang bibit sengon Rendam benih dengan campuran air dan fungisida (Benlate, Dithane, atau Derasol) dengan konsentrasi 0,5—1 gram per liter air selama 5—10 menit sebelum penyemaian. Selain itu, lakukan juga penyemprotan fungisida berbahan aktif tembaga (Manchotane, Manteb, dan Manzate) setiap 6 hari hingga berkecambah. Jika bibit telah terserang, semprotkan Danvil, Anvil, atau Andil dengan dosis 1—2 ml/liter air.

H. Analisis Usaha Bisnis Pembibitan Sengon

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan merupakan lahan sewa seluas 1.000 m².
  2. Target produksi sebanyak 20.000 bibit.
  3. Benih yang digunakan merupakan benih bersertifikat seharga Rp1.600.000/kg.
  4. Persentase berkecambah benih sebesar 70%.
  5. Persentase bibit siap tanam sebesar 80%.
  6. Jumlah butir benih per kg sebanyak 25.000 butir per gram.
    Kebutuhan benih = Target produksi : (persentase berkecambah x persentase bibit siap salur x jumlah butir benih)
    = 20.000 : (70% x 80% x 25.000)
    = 1,5 kg
  7. Persentase kerusakan polibag sebesar 3%.
  8. Jumlah polibag per kg sebanyak 1.000 buah.
    Kebutuhan polibag = (jumlah bibit + (jumlah bibit x persentase kerusakan)) : jumlah polibag/kg
    = (20.000 + (20.000 x 3%))/1.000
    = 20,6 kg
    = 21 kg
  9. Media semai berupa campuran tanah, arang sekam, dan kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
  10. Pembelian tanah menggunakan mobil colt berkapasitas 7 m³.
  11. Pembelian arang sekam dan kompos berupa kemasan karung dengan kapasitas masing-masing 50 kg dan 20 kg.

b. Rincian Biaya

Biaya investasi pembibitan sengon

Komponen
Harga Satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 1.000 m2
750.000
1
Tahun
750.000
Paranet
800.000
4
Gulung
3.200.000
Bambu
7.500
50
Batang
375.000
Pembuatan sumur
2.000.000
1
Paket
2.000.000
Pemasangan instalansi listrik
250.000
1
Paket
250.000
Pompa air
750.000
1
Buah
750.000
sprayer
350.000
1
Buah
350.000
Saung (barak)
1.000.000
1
Paket
1.000.000
Peralatan pertanian
400.000
1
Paket
400.000
Sungkup plastik
300.000
2
Paket
600.000
Total biaya investasi
8.925.000

Biaya tetap pembibitan sengon per periode

Komponen
Masa
Pakai
Harga
(Rp)
Perhitungan
Total Biaya (Rp)
Penyusutan sewa lahan
12
750.000
4/12 x Rp750.000
250.000
Penyusutan paranet
36
3.200.000
4/36 x Rp3.200.000
355.556
Penyusutan bambu
12
375.000
4/12 x Rp375.000
125.000
Penyusutan sumur
96
2.000.000
4/96 x Rp2.000.000
83.333
Penyusutan instalasi listrik
60
250.000
4/60 x Rp250.000
16.667
Penyusutan pompa air
48
750.000
4/48 xRp750.000
62.500
Penyusutan sprayer 36 350.000 4/36 x Rp350.000 38.889
Penyusutan saung 60 1.000.000 4/60 x Rp1.000.000 66.667
Penyusutan peralatan pertanian 24 400.000 4/24 x Rp400.000 66.667
Penyusutan sungkup 36 600.000 4/36 x Rp600.000 66.667
Total biaya tetap 1.131.944

Biaya variabel pembibitan jati per periode

Komponen
Harga Satuan(Rp)
Jumlah
Satuan
Total Biaya (Rp)
Polibag
25.000
21
Kg
525.000
Kompos
10.000
100
Karung
1.000.000
Tanah
300.000
2
Bak
600.000
Arang sekam
10.000
20
Karung
400.000
Benih sengon
1.600.000
1,5
Kg
2.400.000
PupukNPK
3.000
140
Kg
420.000
Pupuk Gandasil D
60.000
15
Kg
900.000
Pestisida
100.000
2
Kg
200.000
Pembukaan lahan
500.000
1
Borongan
500.000
Biaya listrik
75.000
4
Bulan
300.000
Tenaga pengisian media
50
20.000
Polibag
1.000.000
Tenaga penyapihan
25
20.000
Polibag
500.000
Biaya tenaga kerja
600.000
4
Bulan
2.400.000
Total biaya variabel
11.145.000
Total biaya operasional  = Total biaya tetap + Total biaya variabel
                                     = Rp1.131.944 + Rp11.145.000
                                     = Rp12.276.944

c. Pendapatan dan Keuntungan per Periode Bisnis Pembibitan Sengon

1. Pendapatan

Pendapatan  = Jumlah bibit x harga jual
                     = 20.000 bibit x Rp1.500
                     = Rp30.000.000

2. Keuntungan

Keuntungan   = Pendapatan—total biaya operasional
                       = Rp30.000.000— Rp12.276.944
                       = Rp17.723.056

d. Kelayakan Usaha

1. Rasio R/C

Rasio R/C     = Pendapatan : Total biaya operasional
                     = Rp30.000.000 : Rp12.276.944
                     = 2,44
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,44 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,44.

2. Pay Back Period

Pay back period (titik balik modal atau titik impas) adalah perbandingan antara total investasi dengan keuntungan yang diperoleh.
Pay back period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 4 bulan
                          = (Rp8.925.000 : Rp17.723.056) x 4 bulan
                          = 2,01 bulan


EmoticonEmoticon

----------------------------------------------------------