Sunday, April 17, 2016

Bisnis dan Budi Daya Jamur Tiram

A. Prosepk Bisnis Budi Daya Jamur Jamur Tiram

bisnis budi daya jamur tiram
Budi daya jamur tiram di Indonesia sudah populer sejak tahun 1988. Hingga saat ini, jamur tiram tetap eksis di kalangan petani jamur karena memiliki berbagai keunggulan, di antaranya dapat dipanen setiap hari dan tidak tergantung pada musim. Teknik budi daya yang dilakukan pun relatif sederhana. Selain mudah dibudidayakan, keunggulan lain jamur tiram adalah memiliki harga jual yang stabil dan pasar yang pasti. Bagi para pemula, bisnis jamur tiram dapat dimulai dengan membeli baglog sehingga risiko usaha relatif kecil. Pengembangan usaha dilakukan dengan membeli bibit pada petani jamur, lalu membuat baglog secara mandiri.

B. Persiapan Perlengkapan Budi Daya Jamur Tiram

  1. Siapkan kumbung dengan luas 6 x 6 meter. Usahakan lokasi kumbung terletak di ketinggian 700—800 meter dpl, dekat dengan sumber air, dan strategis.
  2. Buat rak untuk mengisi kumbung menggunakan bambu, kayu, atau besi. Buat rak dengan ukuran panjang 5 meter dan lebar 1 meter. Rak biasanya terdiri atas 3—5 tingkat.
  3. Siapkan baglog jamur tiram yang telah ditumbuhi miselium berwarna putih dan terbebas dari kontaminasi mikroorganisme.
  4. Siapkan alat pemeliharaan berupa tangki, sprayer, blower, termometer, higrometer, slang air, dan noozle.
  5. Siapkan alat panen berupa pisau, gunting, dan keranjang panen.

C. Penumbuhan dan Pemeliharaan Budi Daya Jamur Tiram

cara budi daya jamur tiram
  1. Seleksi baglog dengan cara memilih baglog dengan miselium berwarna putih merata di seluruh bagian. Pasalnya, baglog dengan miselium tidak merata akan menghasilkan sedikit jamur.
  2. Susun baglog di atas rak yang telah disediakan. Penyusunan baglog dapat dilakukan dengan cara direbahkan atau diberdirikan. Jika baglog direbahkan, penataannya harus saling berlawanan untuk mencegah terhambatnya pertumbuhan jamur. Sementara itu, baglog yang diberdirikan maksudnya baglog diletakkan di atas rak dengan posisi berdiri dan ditata rapi sesuai dengan luas rak yang digunakan.
  3. Untuk baglog yang direbahkan, lakukan penyayatan menggunakan pisau tajam. Penyayatan dapat berbentuk huruf L dengan ukuran 1 x 1 cm. Penyayatan dilakukan dua kali, yaitu saat baglog dimasukkan ke dalam kumbung dan setelah panen pertama.
  4. Untuk baglog yang diberdirikan, penyayatan tidak perlu dilakukan karena jamur akan keluar melalui lubang yang dibuat di bagian atas baglog. Agar pertumbuhan jamur tidak terhambat, lakukan pengamatan rutin untuk mengetahui baglog yang telah ditumbuhi jamur, tetapi jamur tersebut tidak dapat menembus koran yang menutupi lubang baglog.
  5. Kondisikan kumbung agar suhu udara sekitar 16—22° C dengan kelembapan 80—90%. Caranya, lakukan penyiraman (pengabutan) menggunakan sprayer. Jika suhu dan kelembapan normal, pengabutan cukup dilakukan sekali, yaitu pada pagi hari. Sementara itu, jika cuaca panas, lakukan pengabutan sebanyak dua kali, yaitu pada pagi dan sore hari.
  6. Usahakan sirkulasi udara di dalam kumbung berjalan lancar. Pasalnya, sirkulasi buruk akan menghambat pertumbuhan jamur. Pengaturan sirkulasi udara dilakukan dengan cara membuka jendela kumbung selama 1—2 jam setiap hari.
  7. Lakukan pengamatan rutin terhadap jamur yang tumbuh. Jika terdapat kontaminasi, segera pisahkan baglog agar tidak menular ke baglog lainnya. Ciri-ciri kontaminasi di antaranya jamur tidak tumbuh, miselium yang tumbuh berwana kehijauan atau kehitaman, dan terlihat adanya jamur jenis lain yang tumbuh di baglog.
  8. Lakukan sanitasi baglog dengan cara menyapu dan membuang kotoran serta hama yang menyerang baglog.
  9. Usahakan kondisi kumbung dalam keadaan steril dan higienis. Tujuannya, untuk mencegah kontaminasi dan serangan organisme pengganggu, seperti gulma, lalat, tungau, rayap, dan cacing.

D. Panen dan Pascapanen Budi Daya Jamur Tiram

  1. Lakukan pemanenan pertama pada saat jamur tiram berumur 40 hari atau 4—5 hari setelah pembentukan tubuh buah. Pemanenan selanjutnya dapat dilakukan hingga lima kali dengan interval 10 hari sekali. Saat panen, jamur tiram memiliki bobot 50—75 gram.
  2. Lakukan pemanenan pada pagi hari atau sore hari. Pilih jamur berukuran besar dan sehat.
  3. Petik semua jamur yang tumbuh dengan tangan atau menggunakan pisau yang tajam. Usahakan tidak terdapat jamur sisa di baglog. Pasalnya, sisa jamur tersebut dapat membusuk dan berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram berikutnya.
  4. Letakkan hasil panen di dalam keranjang panen yang telah disediakan.
  5. Kemas jamur menggunakan plastik atau sterofoam yang ditutup plastik.

E. Kendala dan Solusi Budi Daya Jamur Tiram

Kendala Solusi
Tingginya tingkat kontaminasi serta serangan hama dan penyakit Lakukan manajemen pemeliharaan dengan baik serta usahakan semua pekerjaan dilakukan dengan steril dan higienis.
Ketersediaan air yang kurang Sebelum menanam, pastikan lahan memiliki sumber air yang cukup.
Musim dan cuaca yang tidak menentu Pastikan kondisi lingkungan di dalam kumbung dalam keadaan optimal, tidak terlalu lembap atau terlalu kering.

F. Analisis Usaha Budi Daya Jamur Tiram

a. Asumsi

  1. Lahan diasumsikan milik sendiri. Kumbung yang digunakan berukuran 5 x 10 meter.
  2. Bibit baglog dibeli sebanyak 5.000 baglog seharga Rp1.800/ baglog.
  3. Produktivitas jamur tiram per periode diasumsikan 0,5 kg/baglog dengan daya hidup 90%. Artinya, dari 5.000 bibit baglog diperoleh jumlah panen jamur tiram sebanyak = 0,5 kg/baglog x 5.000 baglog x 90% = 2.250 kg.
  4. Periode panen diasumsikan selama tiga bulan.
  5. Hasil panen dijual dalam bentuk segar dengan asumsi harga jual Rp10.000/kg.

b. Perhitungan Biaya

— Biaya Investasi
Komponen
Satuan
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Kumbung
50 m²
200.000
10.000.000
Sapu
1 buah
15.000
15.000
Sprayer
1 buah
300.000
300.000
Termometer dan higrometer
1 buah
250.000
250.000
Alat panen
1 set
50.000
50.000
Total Biaya Investasi
10.615.000

— Biaya Tetap
Uraian
Masa Pakai
Harga (Rp)
Penyusutan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Penyusutan kumbung
60 bulan
10.000.000
3/60 x 10.000.000
500.000
Penyusutan sapu
24 bulan
15.000
3/24 x 15.000
1.875
Penyusutan sprayer
60 bulan
300.000
3/60 x 300.000
15.000
Penyusutan thermometer dan higrometer 36 bulan 250.000 3/36 x 250.000 20.833
Penyusutan alat panen 24 bulan 50.000 3/24 x 50.000 6.250
Total Biaya Tetap 543.958

— Biaya Variabel
Uraian
Satuan
Harga(Rp)
Total Biaya (Rp)
Baglog
5.000 baglog
1.800
9.000.000
Biaya tenaga kerja 3 kg
500.000
1.500.000
Biaya listrik dan air 3 kg
75.000
225.000
Total Biaya Tidak Tetap
10.725.000
— Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional   = Total biaya tetap + total biaya variabel
                                      = Rp543.958 + Rp10.725.000
                                      = Rp11.268.958

c. Pendapatan dan Keuntungan

— Pendapatan per Periode
Pendapatan                    = Jumlah produksi x harga jamur tiram
                                      = 2.250 kg x Rp10.000/kg
                                      = Rp22.500.000
— Keuntungan per Periode
Keuntungan                    = Pendapatan – Total biaya operasional
                                      = Rp22.500.000 – Rp11.268.958
                                      = Rp11.231.042

d. Kelayakan Usaha

— R/C Rasio
Rasio R/C                       = Pendapatan : Total biaya operasioanal
                                      = Rp22.500.000 : Rp11.268.958
                                      = 2
R/C lebih dari satu artinya usaha budi daya jamur tiram layak dijalankan. R/C 2 artinya setiap penambahan modal sebesar Rp1 akan memberikan pendapatan sebesar Rp2.
— Pay Back Period
Pay back period = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
                                      = (Rp10.615.000 : Rp11.231.042) x 1 bulan
                                      = 0,95 bulan
Artinya, titik balik modal usaha budi daya jamur tiram dapat dicapai kurang dari satu bulan (0,95 bulan).


EmoticonEmoticon

----------------------------------------------------------