Sunday, April 17, 2016

Bisnis Bertanam Tomat di Lahan Satu Hektare

A. Prospek Bisnis Bertanam Tomat

bisnis bertanam tomat
Tomat merupakan salah satu sayuran buah yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Tomat dapat dikonsumsi secara langsung sebagai buah dan jus ataupun sebagai pelengkap dalam masakan. Permintaan masyarakat terhadap komoditas ini cenderung meningkat. Terlebih, permintaan industri pengolahan saus tomat juga meningkat.
Harga tomat agak berfluktuatif. Beberapa waktu telah terjadi kenaikan harga tomat. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya petani yang sedang menggarap tomat, sehingga hasil panen tidak mencukupi untuk kebutuhan dan permintaan dalam negeri. Karena itu, peluang agrobisnis tanaman sayuran seperti tomat juga cukup menjanjikan.

B. Persiapan Perlengkapan Bertanam Tomat

  1. Siapkan benih tomat unggul yang bersertifikat sebanyak 100—120 gram/hektare.
  2. Siapkan kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 ton dan kapur pertanian sebanyak 2 ton.
  3. Siapkan pupuk urea 300 kg, SP-36 300 kg, KCl 250 kg, dan ZA 200 kg. Untuk pupuk susulan, siapkan pupuk NPK sebanyak 400 kg.
  4. Siapkan alat pertanian seperti cangkul, bambu garu, kored, ember, dan gembor.
  5. Siapkan alat panen berupa keranjang panen, timbangan, pisau, dan tali rafia.

C. Persiapan Lahan Menanam Tomat

  1. Pilih lahan dengan tipe tanah gembur, subur, dan mengandung banyak bahan organik.
  2. Lokasi lahan sebaiknya berada di ketinggian 700—1.500 meter dpl dan mendapatkan sinar matahari langsung. Hindari penggunaan lahan bekas tanaman tomat dan tanaman lain yang satu famili seperti cabai, terung, dan tembakau yang telah terserang hama dan penyakit.
  3. Bersihkan lahan dari gulma dan sisa pertanaman sebelumnya.
  4. Jika pH tanah kurang dari 5,8—6,5, taburkan kapur pertanian dengan dosis minimum 2 ton.
  5. Cangkul atau bajak lahan untuk menggemburkan dan membalikkan tanah.
  6. Buat bedengan dengan tinggi 15—20 cm, lebar 110 cm, dan panjang sesuai kondisi lahan. Pisahkan setiap bedengan dengan selokan berukuran 50 cm.
  7. Taburkan pupuk kandang matang di atas bedengan.
  8. Campurkan pupuk sesuai dosis dan taburkan di atas bedengan yang telah dibuat, lalu ratakan.
  9. Cangkul selokan yang berada di kiri dan kanan bedengan sehingga tinggi bedengan menjadi 30—40 cm.
  10. Ratakan tanah di atas bedengan dan pasang mulsa plastik hitam perak.
  11. Buat lubang tanam menggunakan kaleng bekas berdiameter 6—10 cm. Jarak tanam antarbaris sekitar 60—70 cm dan jarak dalam baris sekitar 50—60 cm. Dengan pola tanam seperti ini, jumlah populasi dalam satu hektare sebanyak 16.000—17.000 tanaman.
  12. Lakukan pengairan dengan sistem penggenangan selokan (leb) untuk melarutkan pupuk dan melembapkan tanah sebelum proses penanaman.
  13. Untuk menghindari genangan air saat musim hujan, pastikan drainase terjaga dengan baik dan buat bedengan lebih tinggi dari sebelumnya. Sementara itu, pastikan irigasi mampu mengairi lahan pada musim kemarau.

D. Penyemaian Benih Tomat

cara menanam tomat
  1. Semai benih tiga minggu sebelum jadwal pemindahan ke lahan.
  2. Rendam benih tomat di dalam air hangat selama enam jam. Tiriskan benih, lalu bungkus menggunakan kain lembap yang hangat. Diamkan selama 18 jam.
  3. Siapkan media semai yang terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1.
  4. Masukkan media semai yang telah tercampur rata ke dalam wadah. Wadah dapat menggunakan polibag, tray, gelas plastik, atau nampan plastik.
  5. Tanam benih sebanyak satu benih untuk setiap lubang tanam.
  6. Siram permukaan media menggunakan hand sprayer atau gembor. Penggunaan gembor sebaiknya yang memiliki lubang nozzle yang kecil agar benih tidak berantakan.
  7. Tutup permukaan media menggunakan daun pisang, karung, atau plastik hitam selama 3—4 hari untuk menjaga kelembapan.
  8. Setelah penutup dibuka, lakukan penyiraman secara rutin agar bibit tumbuh optimal.
  9. Cabut dan pisahkan bibit yang mengalami penyakit rebah semai (dumping off) agar tidak menular ke bibit yang lain. Jika serangan cukup parah, lakukan penyemprotan menggunakan Benlate atau Delsene dengan dosis setengah dari yang dianjurkan dalam kemasan.
  10. Lakukan hardening atau uji ketahanan bibit dengan membuka sungkup menjelang pemindahan bibit ke lapangan.
  11. Pemindahan bibit dilakukan setelah 16—18 hari di media semai. Pilih bibit yang sehat, tumbuh normal, dan memiliki jumlah daun sebanyak 3—4 helai.

E. Penanaman dan Pemeliharaan Tomat

  1. Lakukan penanaman bibit tomat pada pagi hari. Penanaman pada siang hari berisiko menyebabkan bibit menjadi stres atau layu. Apabila penanaman tidak selesai pada pagi hari, sebaiknya lanjutkan pada sore hari.
  2. Buat lubang tanam menggunakan batang kayu berdiameter 6—10 cm.
  3. Lepaskan bibit tomat dari tempat penyemaian secara hati-hati. Usahakan media tanam tidak pecah agar perakarannya tidak terganggu.
  4. Masukkan bibit ke dalam lubang tanam. Usahakan tidak ada rongga antara ujung media semai dengan permukaan tanah dalam lubang tanam.
  5. Timbun dengan tanah hingga ketinggian 2—3 cm di bawah daun. Usahakan daun tidak menyentuh permukaan mulsa.
  6. Lakukan penyiraman di sekitar bibit untuk mengurangi tingkat stres bibit dan mempercepat proses adaptasi.
  7. Amati pertumbuhan bibit secara rutin. Jika ada bibit yang mati, segera lakukan penyulaman agar populasi tomat di lapangan tetap seragam.
  8. Lakukan pewiwilan tunas samping yang tumbuh di ketiak daun setelah tiga minggu. Pewiwilan dilakukan sebanyak 2—3 kali hingga terbentuk percabangan utama.
  9. Pasang ajir maksimum tiga minggu setelah tanam. Pengajiran yang terlambat akan merusak akar tanaman.
  10. Pasang ajir untuk menopang tanaman tomat. Ukuran ajir umumnya panjang 225—250 cm dan lebar 3—4 cm. Pasang dua ajir secara miring ke dalam dengan posisi silang. Kedua ajir yang saling berhadapan membentuk huruf “x”. Di titik persilangan, sebaiknya diberi tambahan sebilah bambu memanjang sesuai dengan panjang bedengan. Setelah itu, ikat menggunakan tali rafia tepat di titik persilangan ajir agar lebih kokoh.
  11. Pada umur 10—15 HST, lakukan pemupukan dengan melarutkan NPK sebanyak 5 gram/liter air. Berikan pupuk ke masing-masing bibit tomat sebanyak 200 ml larutan kocoran atau setara dengan satu gelas plastik. Siramkan pupuk di lubang tanam. Usahakan daun tidak terkena larutan untuk menghindari daun layu dan terbakar.
  12. Untuk menunjang fase generatif, lakukan pemupukan kembali menggunakan NPK dengan dosis 50—100 kg/ha, yaitu pada umur 55—60 HST dan 90—95 HST. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara membenamkan pupuk di sekitar lubang tanam.
  13. Pada saat tajuk tumbuh optimal, lakukan pewiwilan daun tua yang berada di bawah cabang utama.
  14. Lakukan seleksi buah. Sisakan 6—8 buah per tandan yang memiliki bentuk sempurna. Biasanya, tanaman tomat memiliki 10—12 buah per tandan.
  15. Lakukan pemangkasan pucuk saat tanaman mencapai ketinggian 220—230 cm.
  16. Jaga sanitasi lahan dengan cara membersihkan gulma serta melakukan antisipasi serangan hama dan penyakit.
  17. Lakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, kondisi lingkungan, dan serangan hama dan penyakit secara rutin.
  18. Apabila serangan melewati ambang batas ekonomi, lakukan penyemprotan pestisida sesuai dengan anjuran yang tepat jenis, dosis, cara, dan waktu aplikasinya.

F. Panen dan Pascapanen Tomat

panen tomat
  1. Umur panen tomat cukup bervariasi, tergantung pada varietas yang digunakan dan, ketinggian lahan. Ratarata umur panen tomat sekitar 75—90 HST. Panen selanjutnya dapat dilakukan 3—5 hari sekali hingga buah habis. Panen buah yang akan dipasarkan jarak dekat (waktu tempuh kurang dari 24 jam) sebaiknya pada tingkat kematangan 70—80%. Sementara itu, buah yang akan dipasarkan jarak jauh (waktu tempuh lebih dari 24 jam) sebaiknya dipanen pada tingkat kematangan 50—60%. Tingkat kematangan dapat ditentukan berdasarkan warna buah.
  2. Panen tomat dengan cara memetik buah beserta tangkainya. Caranya, pegang tangkai buah, lalu tarik ke atas hingga tangkai terlepas dari percabangan. Hindari menarik ke arah bawah karena dapat merusak cabang produktif tanaman. Selain dipetik secara manual menggunakan tangan, pemanenan juga bisa menggunakan alat bantu pisau atau gunting.
  3. Kumpulkan hasil panen ke dalam karung atau keranjang panen dan bawa ke tempat penampungan sementara.
  4. Sebelum penditribusian, bersihkan dan sortasi tomat. Pisahkan tomat yang busuk dan terserang penyakit agar tidak menular pada tomat lainnya. Setelah itu, pisahkan tomat yang bebas hama dan penyakit sesuai grade. Grade A—B merupakan tomat yang memiliki ukuran 80—129 gram per buah. Sementara itu, grade C merupakan tomat yang memiliki ukuran 50—80 gram per buah.
  5. Apabila panen dilakukan setelah hujan, sebaiknya keringanginkan terlebih dahulu tomat yang sudah disortasi agar tidak menyebabkan kebusukan buah.
  6. Kemas tomat ke dalam pengemasan yang telah disiapkan, seperti boks plastik, peti kayu, kardus, karung, atau karung jaring.

G. Kendala dan Solusi Bertanam Tomat

Kendala
Solusi
Tingginya tingkat serangan hama dan penyakit Gunakan varietas unggul tahan hama dan penyakit serta lakukan teknik budi daya dengan manajemen yang baik.
Fluktuasi harga tomat Ikut serta dalam kelompok tani yang memasarkan buah ke supermarket dan industri pengolahan saus tomat.
Musim dan cuaca yang tidak menentu Lakukan perbaikan budi daya dengan cara mencegah dan mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang.

H. Analisis Usaha Agrobisnis Tomat

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan seluas 10.000 m² dengan sistem sewa Rp700.000/bulan.
  2. Periode perhitungan analisis usaha dilakukan setiap enam bulan.
  3. Hasil panen tomat dibedakan menjadi dua grade, yaitu grade A-B sebanyak 30.000 kg dengan harga jual Rp2.000/kg, dan grade C sebanyak 20.000 kg dengan harga jual Rp1.000/kg.

b. Perhitungan Biaya

— Biaya Investasi
Komponen
Satuan
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
Alat pertanian
4 set
200.000
800.000
Ember plastik
10 buah
20.000
200.000
Timbangan
2 buah
80.000
160.000
Boks panen
8 buah
100.000
800.000
Gembor
8 buah
75.000
600.000
Sprayer
2 buah
350.000
700.000
Total Biaya Investasi
3.260.000

— Biaya Tetap
Uraian
Masa Pakai Harga (Rp)
Penyusutan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Sewa lahan 5.000 m² 6 bulan 700.000
4.200.000
Penyusutan alat pertanian
36 bulan 800.000
4/36 x 800.000
133.333
Penyusutan ember plastik
24 bulan 100.000
4/24 x 200.000
50.000
Penyusutan timbangan 36 bulan 160.000
4/36 x 160.000
26.667
Penyusutan boks panen 36 bulan 500.000
4/36 x 800.000
133.333
Penyusutan gembor 24 bulan 375.000 4/24 x 600.000 150.000
Penyusutan sprayer 60 bulan 350.000 4/60 x 700.000 70.000
Total Biaya Tetap 4.763.333

— Biaya Variabel
Uraian
Satuan
Harga (Rp)
Total Biaya (Rp)
Benih 12 pak
75.000
900.000
Pupuk kandang 10.000 kg
300
3.000.000
Pupuk urea 300 kg
1.400
420.000
Pupuk SP-36 300 kg
1.900
570.000
PupukZA 200 kg
1.200
240.000
PupukKCl 250 kg
1.800
450.000
Pupuk susulan NPK mutiara 400 kg
8.000
3.200.000
Kapur pertanian 2.000 kg
300
600.000
Insektisida 25 liter
150.000
3.750.000
Fungisida 25 kg
70.000
1.750.000
Tali rafia 15 rol
5.000
75.000
Ajir 20.000 batang
150
3.000.000
Sungkup plastik 75 meter
3.000
225.000
Polibag 15 kg
30.000
450.000
Mulsa plastik 11 rol
350.000
3.850.000
Tenaga kerja persemaian 60 HKW
15.000
900.000
Tenaga kerja pengolahan lahan 175 HKP
20.000
3.500.000
Tenaga kerja penanaman 50 HKW
15.000
750.000
Tenaga kerja pemeliharaan 250 HKP
20.000
5.000.000
Tenaga kerja pemeliharaan 200 HKW
15.000
3.000.000
Tenaga kerja panen dan pascapanen
50 HKP
20.000
1.000.000
Tenaga kerja panen dan pascapanen
100 HKW
15.000
1.500.000
Total Biaya Tidak Tetap
38.130.000

Keterangan :  HKW = Hari Kerja Wanita (6 jam sehari)
                        HKP = Hari Kerja Pria (8 jam sehari)
— Total Biaya Operasional per Periode
Total biaya operasional    = Total biaya tetap + total biaya variabel
                                       = Rp4.763.333+ Rp38.130.000
                                       = Rp42.893.333

c. Pendapatan dan Keuntungan

— Pendapatan per Periode
Pendapatan                             = Jumlah tomat terjual x harga tomat
Pendapatan dari grade A—B  = 30.000 kg x Rp2.000/kg = Rp60.000.000
Pendapatan dari grade C         = 20.000 kg x Rp1.000/kg = Rp20.000.000
Total Pendapatan                    = Rp80.000.000
— Keuntungan per Periode
Keuntungan              = Pendapatan – Total biaya operasional
                                = Rp80.000.000 – Rp42.893.333
                                = Rp37.106.667

d. Kelayakan Usaha

— R/C Rasio
Rasio R/C                = Pendapatan : Total biaya operasioanal
                                = Rp80.000.000 : Rp42.893.333
                                = 1,87
R/C lebih dari satu artinya usaha budi daya tomat layak dijalankan. R/C 1,87 artinya setiap penambahan modal sebesar Rp1 akan memberikan pendapatan sebesar Rp1,87.
— Pay Back Period
Pay back period       = (Total biaya investasi : keuntungan) x 1 bulan
                                = (Rp3.260.000 : Rp37.106.667) x 1 bulan
                                = 0,09 bulan
Artinya, titik balik modal usaha budi daya tomat dapat dicapai kurang dari satu bulan (0,09 bulan).


EmoticonEmoticon

----------------------------------------------------------